Tampilkan postingan dengan label Mancanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mancanegara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Desember 2017

Jack Ma: Pintar Bukan Jaminan Sukses

Siapa tidak kenal Jack Ma? Pendiri dan CEO dari Alibaba ini orang ketiga terkaya di Tiongkok (berdasarkan “Hurun China Rich List”; 12/10/2017) dengan harta kekayaan mencapai 30 miliar dolar AS. Pria 53 tahun ini juga penasihat steering committee roadmap e-commerce Indonesia—penawaran lisan serta tertulis dari Pemerintah RI, telah disetujuinya.


Dengan berbagai prestasi dan kesuksesan yang dicapai Jack Ma, tentu orang kerap bertanya rahasia sukses darinya. Baginya, pintar bukan jaminan sukses. Satu kunci keberhasilan, menurut kelahiran Hangzhou ini, adalah emotional quotient (EQ). Sesuai namanya, EQ berkait dengan kecerdasan emosional seseorang. Khususnya, tahu bagaimana cara memperlakukan orang dengan baik.

"Karena kalian akan memahami bagaimana bekerja sama dengan orang lain,” paparnya dalam berbagai kesempatan. “Tidak peduli betapa pintar kalian, jika tidak dapat bekerja sama, kalian tidak akan pernah sukses.”

Jack Ma menambahkan bahwa love quotient (LQ) memainkan peranan besar bagi manusia, untuk menjadi orang yang lebih peduli, lebih penuh kasih terhadap sesamanya, lebih “terhormat”. Konsep LQ ini sering ia paparkan, saat sharing dalam berbagai forum bisnis dan teknologi.

Menurutnya, di masa depan, keseharian/pekerjaan akan kita didominasi oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) dan komputer. Nah, daripada mengarahkan manusia agar bisa menyamai performa mesin, kita seyogianya melihat kelebihan diri sendiri.

"Mesin tidak mempunyai hati, mesin tidak mempunyai jiwa, dan mesin tidak mempunyai hal yang dipercayai. Manusia memiliki jiwa, memiliki hal yang dipercayai, memiliki nilai. Kita adalah makhluk yang arif dan kreatif, kita tunjukkan bahwa kitalah yang mampu mengendalikan mesin-mesin.”

Katanya juga, “Abad lalu, orang saling membandingkan otot dan memberdayakan diri sendiri. Sedangkan abad ini, kita saling membandingkan kebijaksanaan dan keramahan, juga memberdayakan orang lain."

Membentuk Karakter Sukses
Jack Ma juga menegaskan bahwa ia tidak pernah dididik untuk menjadi pengusaha. Namun, masa-masa saat menjadi ketua kelas membantunya mendapat pengalaman bekerja sama dan menghadapi orang lain. Selain itu, mampu mengakui kegagalan sendiri, mau belajar dari kesalahan orang lain, dan pantang mengeluh menjadi hal-hal yang penting dalam membentuk karakter sukses.

"Hanya orang-orang yang memahami masalah yang mampu menjadi sukses. Jadi jika Anda punya keluhan, harus ada solusinya. Jika tidak, jangan mengeluh!” pungkasnya.
Read more

Tukang Sayur yang Menyumbang Miliaran Rupiah

Sekali lagi, menyumbang bukan urusan orang kaya saja. Orang sederhana pun bisa melakukannya. Bahkan, dengan bentuk kepedulian pada orang lain yang begitu tinggi, seorang tukang sayur pun bisa menyumbang miliaran rupiah.


Chen bukanlah pejabat penting di Taiwan atau tokoh berpengaruh di negeri itu. Ia hanya seorang perempuan yang menginjak usia 60-an tahun dan profesinya sebagai penjual sayuran. Majalah Forbes mengukuhkannya menjadi salah satu dari “48 Heroes of Philanthropy” (Pahlawan Kedermawanan) 2010. Sementara majalah TIME memilihnya menjadi bagian dari “The 100 Most Influential People in The World” pada tahun yang sama.

Kisahnya memang inspiratif. Chen adalah tukang sayur di Pasar Taitung, Taiwan. Ia punya sebuah lapak sederhana. Penghasilannya sebenarnya relatif sama dengan penjual sayuran lain yang berjualan di pasar itu. Tetapi yang membedakannya adalah ia mampu menyisihkan penghasilannya hingga NT$10 juta atau US$321.550 (sekitar Rp2,9 miliar) dalam kurun waktu 20-an tahun; yang lalu ia sumbangkan ke berbagai pihak seperti sekolah, panti asuhan, rumah sakit, biara, anak-anak miskin, dan sebagainya. Bagaimana ia mengumpulkan uang sebanyak itu? Bisa dikatakan pengalaman hidup dia sendirilah yang memampukannya berbuat demikian.

Chen Shu-chu kehilangan ibu dan adik bungsunya karena keluarganya tak punya cukup biaya untuk menolong mereka. Ketika ayahnya berhasil meminjam uang dari sana-sini untuk biaya perawatan sang ibunda, usaha ini sudah terlambat karena ibunya lebih dulu meninggal. Hal ini pun terulang kembali pada adik bungsunya. Sejak itu ia bertekad untuk berhemat demi mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga. Ia makan sesuai kebutuhannya, tak perlu berlebihan. Ia berpakaian sederhana. Tak perlu pula berfoya-foya. Dengan berhemat, ia bisa menabung.

Setelah ayahnya meninggal di awal tahun 1990-an, Chen Shu-chu terinspirasi untuk menyumbangkan tabungannya agar bisa membantu orang lain. Ia menyadari, di luar sana banyak orang yang mengalami nasib seperti dirinya, sulit mendapat akses ke rumah sakit atau mendapat pengobatan yang memadai, karena miskin. Ia pun menyumbang ke biara Fo Guang Shan sebesar NT$1 juta (US$32.155 atau sekitar Rp289 juta). Uang sebesar itu merupakan akumulasi dari tabungannya bertahun-tahun.

Pada tahun 2000, ia kembali menyumbang yang kali ini ke Ren-ai Primary School, sekolah dasar tempat dulu ia sekolah, sebesar NT$1 juta. Dana itu diberikan untuk membantu anak-anak yang tidak mampu mengembangkan pendidikan dan sebagainya.


Banyak orang yang heran bagaimana caranya Chen menabung hingga bisa memiliki tabungan sebanyak itu padahal ia hanya berjualan sayuran. “Belanjakan uang hanya untuk sesuatu yang benar-benar kita butuhkan, pasti bisa menabung uang yang banyak,” kata Chen. Untuk melakukan itu, setiap malam Chen memindahkan uang recehan kembalian ke tiga dus kecil untuk ditabung. Dan ia terus melakukan hal itu. “Setiap orang pasti bisa melakukannya karena sangat mudah,” katanya.

Ditambah dengan sikap hidup hematnya, maka tabungannya cepat bertambah banyak. Tentu bukan hanya uang recehan itu tabungannya. Hidup hemat Chen memang luar biasa. Selain makan secukupnya, berpakaian sederhana, ia pun tinggal di tempat sederhana. Ia terbiasa tidur di lantai sejak ia mulai berjualan sayur di pasar. Katanya, dengan cara begitu ia akan cepat bangun dan pergi ke pasar jika kesiangan. “Saya mencintai pekerjaan ini,” katanya.

Meski sudah berjasa besar bagi orang lain, Chen Shu-chu menolak disebut bahwa kedermawanannya itu sangat luar biasa. “Ini bukan pekerjaan yang luar biasa. Tentu banyak orang lain di luar sana yang punya keinginan untuk menyumbang. Akan tetapi karena berbagai hal, mereka tak bisa melakukannya. Selain itu, pasti banyak juga yang sudah menyumbang cuma kita tak tahu saja,” katanya. Ia juga menyebutkan, “Ketika saya menyumbang untuk membantu orang lain, ada perasaan damai dan bahagia di hati saya, saya pun jadi bisa tidur nyenyak,” ujarnya. Luar biasa sekali!
Read more

Selamat Jalan Roger Moore, Aktor Senior James Bond

Aktor senior pemeran James Bond, Roger Moore, meninggal dunia pada usia 89 tahun, Selasa (23/5/). Berita duka ini diumumkan oleh keluarga melalui akun pribadi Moore di Twitter, @sirrogermoore.


"Dengan kesedihan yang mendalam, kami mengumumkan bahwa ayah kami tercinta, Sir Roger Moore, meninggal dunia hari ini di Swiss, setelah berjuang melawan kanker,” demikian pengumuman tersebut.

“Cinta yang ia berikan di hari-hari terakhirnya sangatlah indah dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata,” tambah ketiga anaknya—Deborah, Geoffrey, dan Christian—melalui akun media sosial sang ayah.

Sang James Bond
Roger Moore lahir pada 14 Oktober 1927 di Stockwell, London, Inggris. Meski telah merintis karier di dunia seni peran melalui serial televisi, namun Moore lebih dikenal sebagai pemeran James Bond yang ke-3, penerus Sean Connery.

Moore tercatat pertama kali menjadi Agen Rahasia 007 pada film Live and Let Die (1973), dilanjutkan dengan The Man with the Golden Gun (1974), The Spy Who Loved Me (1977), Moonraker (1979), For Your Eyes Only (1981), Octopussy (1983), dan A View to a Kill (1985).
Menurut kabar yang beredar, Moore pernah didiagnosis terkena diabetes pada 2013, setelah itu ia menderita pneumonia.

Dikutip dari BBC, Moore akan dimakamkan di tempat pribadi di Monako.
Read more

Buku Harian yang Mengguncang Dunia

Hari pertama di rumah ia ingin menulis catatannya. Namun ia tak punya alat tulis. "Kalian mungkin akan tertawa. Mana mungkin benda murah seperti ballpoint atau pena, bisa membuat seseorang kesulitan untuk membelinya," katanya dalam buku hariannya setelah ia memiliki pena. Dan urusan ini tidak sederhana. Ia harus mengumpulkan uang saku selama dua minggu. Itu pun masih harus ditebus dengan sedikit "puasa" agar uang yang seharusnya ia belikan roti yang layak untuk dimakan bisa disimpan. Ia hanya makan sekadarnya.

Alat tulis itu bagi Ma Yan adalah segalanya. "Pena tua ini memberiku kekuatan. Ia membuatku memahami apa arti kesulitan hidup atau kebahagiaan hidup. Setiap kali aku melihatnya, seolah-olah aku sedang melihat ibuku. Ia selalu mendorongku untuk selalu bekerja keras," katanya. Dengan pena itu ia menulis catatan hariannya dari hari ke hari.

Suatu hari (tahun 2000), seorang wartawan Perancis, Pierre Haski, datang ke desanya untuk membuat film dokumentasi mengenai penduduk Muslim China yang tinggal di sana. Suatu kali ibu Ma Yan menemuinya dan memberi tahu kalau ia memiliki anak yang karena kesulitan ekonomi sampai tak bisa melanjutkan sekolah. Menurut ibunya, Ma Yan begitu ingin sekolah dan ingin mengangkat nasib keluarganya yang ia tulis di buku hariannya. Buku harian itu ia berikan ke Haski.

Haski terkejut setelah seorang teman menerjemahkannya. Karena indahnya ia kemudian menuliskan kisahnya dalam artikel di suatu koran di Perancis. Sambutan terhadap tulisan itu luar biasa. Haski kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku. Buku Harian Ma Yan itu laku keras. Selain itu banyak orang yang ingin membantu Ma Yan. Lalu terbentuk yayasan Association for the Children of Ningxia.
Tahun 2002, dana yang terkumpul dari simpatisan di yayasan itu dikirim ke Ma Yan agar ia bisa melanjutkan sekolah. Dana itu juga cukup untuk mendorong 250 anak-anak lain di desanya untuk melanjutkan sekolah. Sejak itu Buku Harian Ma Yan diterjemahkan kedalam 17 bahasa asing dan menjadi pembicaraan dunia.

Tahun 2007, Ma Yan lulus SMA. Ia kemudian lolos seleksi ke suatu universitas di Perancis. "Saya ingin jadi wartawan, seperti paman Haski (Pierre Haski) agar saya bisa membantu orang lain terangkat dari kemiskinan," katanya mengenai cita-citanya.

Kini berkat Buku Harian Ma Yan, anak-anak di daerahnya sudah banyak yang bisa sekolah. Menurut yayasan Children of Ningxia, pihaknya sudah membantu 2.500-an anak di Ningxia agar bisa melanjutkan sekolah. Sebanyak 150 mendapat beasiswa dan 14 di antaranya sudah lulus perguruan tinggi sejak 2009. Sungguh luar biasa pengaruh buku harian tersebut!

Read more