Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Hadiah Cinta

Bisa saya melihat bayi saya?" Pinta ibu yang baru melahirkan anaknya, saat bayi diberikan kepadanya. Sesuatu yang mengagetkan terjadi, bayi dalam gendongan itu dilahirkan tanpa kedua belah daun telinga! Meski begitu si ibu tetap menimang sayang bayinya.


Waktu membuktikan, meski terlihat aneh dan buruk, pendengaran anak itu bekerja dengan sempurna dan dengan kasih sayang dan dorongan semangat orang tuanya, ia menjadi pemuda tampan yang cerdas, serta pandai bergaul sehingga disukai teman-temannya. Ia juga mengembangkan bakat di bidang musik sehingga tumbuh menjadi remaja pria yang disegani.

Suatu hari ayah lelaki itu bertemu dengan seorang dokter bedah hebat. "Saya bisa memindahkan sepasang daun telinga untuk putra bapak, tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan daun telinganya," kata sang dokter. Maka orangtua lelaki itu mulai mencari, siapa yang mau mendonorkan daun telinganya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu, tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tidak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan daun telingannya kepadamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk operasi, namun semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Wajahnya yang tampan, ditambah kini sudah punya daun telinga, membuat ia terlihat menawan. Ditambah bakat musiknya, dia makin disegani dan mampu meraih menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Kecerdasannya kemudian membuat ia diterima bekerja sebagai diplomat. Singkat kata, ia sangat ingin berterimakasih kepada orang yang mendonorkan daun telinga.

"Aku harus mengetahui, siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua kepadaku, ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya," kata si anak, pada ayahnya.

"Ayah yakin kau tidak bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan daun telinga itu." Setelah terdiam sesaat, ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti rahasia tetap tersimpan rapi, hingga suatu hari sesuatu yang menyedihkan bagi keluarga itu terjadi. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan ayah membelai rambut ibu yang terbujur kaku lalu menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak terjadi. Ternyata si ibu tidak memiliki daun telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya dan tak seorangpun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya kan?"

Melihat kenyataan bahwa daun telinga ibunya yang didonorkan, meledaklah tangis si anak. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunyalah yang membuat ia bisa seperti saat ini.

Netter yang bijaksana,
"Cinta sejati" tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan tapi tidak diketahui. Kisah pengorbanan ibu dalam cerita di atas adalah wujud cinta sejati yang tidak bisa dinilai dan digantikan dengan apapun, atau sebuah cinta murni yang tak mengharap balasan apa pun.

Karena itu, kita, sebagai anak, jangan pernah melupakan jasa ibu. Melalui dialah, kita ada. Apapun yang kita lakukan, pastilah tak sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita menjadi seperti sekarang ini.

Mari jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus diberikan penghormatan. Sebab dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
Read more

Hidup Rukun dan Harmonis Dalam Keluarga

Alkisah, pada sebuah malam sebelum Tahun Baru Imlek tiba, hujan turun dengan lebatnya. Seorang gadis cilik yang tampak kesepian sedang bersedih karena keluarganya tidak rukun.


"Tahun Baru sebentar lagi akan tiba, tapi keluargaku tidak bahagia. Kakak memaksa ingin dibelikan sepeda motor baru. Tetapi Ayah dan Ibu tidak menyetujui karena kakak dianggap suka ngebut. Mereka pun bertengkar terus soal itu," Keluhnya dalam hati.

Saat matanya nanar melihat keluar jendela, didapati ada empat pria tua berjalan di tengah guyuran hujan, dia pun segera berlari ke ruang tengah sambil membuka pintu rumah dan berseru: "Ayah, Ibu, lihatlah! Kakak, coba ke sini cepat!"

Sang ibu keluar rumah dan menyapa sekumpulan pria tua itu. "Tuan-tuan, di luar hujan lebat sekali. Mari silakan mampir dan berteduh di rumah kami!"

Keempat pria tua itu berhenti di depan rumah dan memperkenalkan diri sendiri satu persatu sebagai: Kekayaan, Kesuksesan, Kesejahteraan, dan Harmoni. Salah seorang menjawab sapaan si ibu: "Terima kasih atas kebaikan Anda, Nyonya. Kami berempat dan kami punya sebuah aturan, yaitu hanya salah satu dari kami yang boleh masuk ke rumah. Siapakah yang ingin Anda undang ke rumah Anda?

Ayah berkata, "Kami seharusnya mengundang masuk Kekayaan, dengan begitu kami bisa mendapat kehidupan yang nyaman dan menyenangkan!"

Si kakak berkata, "Jangan, pilih Kesuksesan saja! Aku ingin keluargaku bangga padaku! Dan tentunya, sukses juga berarti kaya sehingga aku bisa memiliki sepeda motor impianku"

Ibu berujar, "Tunggu! Kupikir Kesejahteraan yang paling penting! Karena sejahtera berarti tidak berkekurangan dan sehat."

Si gadis cilik yang sedari tadi diam, menyela bertanya pada ibunya, "Ibu, Ibu, harmoni itu apa? Kenapa tidak ada yang mengajak masuk Harmoni?"

Setelah terdiam sejenak, Ayah berkata, "Ya, benar! Kenapa kita tidak undang Harmoni? Tahun Baru sebentar lagi datang, sudah seharusnyalah kita sekeluarga rukun dan damai. Tidak perduli kita kaya, sukses atau sejahtera, jika kita rukun pasti bahagia. Kita putuskan, kita undang Tuan Harmoni ke rumah kita. Silahkan masuk Tuan Harmoni."

Tuan Harmoni pun masuk ke dalam rumah dan diikuti dengan tiga pria tua lainnya. "Lho? Katanya tadi hanya salah satu dari kalian yang boleh masuk ke rumah? Kenapa sekarang semuanya ikut masuk?" tukas Ayah

Mereka menjawab, "Kami punya aturan lainnya! Jika Harmoni yang diundang masuk, maka Kesejahteraan, Kesuksesan, dan Kekayaan akan mengikuti." Si gadis cilik itu berkata dengan penuh bahagia, "Sekarang aku mengerti. Kita bisa bahagia kalau kita hidup rukun."

Netter yang berbahagia,
Memang benar. Kerukunan dalam keluarga adalah yang utama dan segalanya. Di dalam diri anak-anak...ada bagian ayah dan ibu, demikian pula sebaliknya. Tiap bagian diri harus harmoni. Jika harmoni terjaga, kerukunan terpelihara, maka sukses, bahagia, dan sejahtera pasti akan mengikuti.

Semoga di saat ini, saat nanti, setiap waktu.. Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan kesehatan, kesejahteraan, kesuksesan, kekayaan, dan keharmonian kepada kita semua.
Read more

Mendorong Anak dan Remaja Untuk Meraih Sukses

Belakangan ini banyak bintang muda baru yang bermunculan, mulai dari menyanyi, akting, kompetisi olahraga, musik, sastra, hingga bidang bisnis. Semua terjadi dengan cepat, seakan menyiratkan kalau sukses dan ketenaran bisa diraih dengan mudah.


Sebenarnya, setiap pencapaian besar dimulai dari langkah-langkah kecil. Sesukses apa pun seseorang, keberhasilan itu tentunya diawali dari satu langkah kecil. Akan tetapi, jarang terjadi langkah-langkah kecil tersebut langsung mengarah pada suatu sukses tertentu.

Meski begitu, pandangan kita selalu terpaku pada kisah indah yang terjadi pada para pengusaha, atlet, penyanyi, dan bintang film muda terkenal itu. Kita cenderung mengabaikan atau tidak memperhatikan masa sulit yang mereka jalani.

Padahal sangatlah penting untuk mengajarkan anak-anak hingga remaja bahwa sukses bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan. Keberhasilan tidak terjadi begitu saja seperti membalikkan telapak tangan. Kadang, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meraih suatu tujuan atau cita-cita. Terkadang pula, suatu target itu tampak mustahil atau terlalu jauh untuk digapai. Namun dengan berfokus yang dimulai dengan menjalani pilihan-pilihan kecil setiap harinya, tujuan akhir itu dapat dicapai.

Karena itu jangan abaikan dan dorong anak-anak untuk memulainya dari langkah kecil.

Langkah pertama selalu terlihat lebih berat daripada yang sebenarnya. Bagaimana satu langkah saja bisa membawa perbedaan? Sungguh besar bedanya. Setiap pekerjaan, apa pun, tidak akan terselesaikan tanpa adanya langkah pertama. Begitu banyak orang yang tidak pernah mengambil langkah pertama, bukan karena hal itu terlalu sulit, melainkan lebih karena hal itu terlihat terlalu sulit.
Pastinya anak-anak kita pernah menjumpai momen-momen di saat mereka berpikir bahwa sesuatu yang tengah mereka hadapi tampak lebih sukar untuk dijalani dibandingkan yang sebenarnya. Sebagai orangtua, kita perlu mengingatkan bahwa sebuah target atau tujuan besar tidak akan pernah bisa tercapai jika langkah pertama tidak diambil.

Tak ada namanya keberuntungan. Terkadang, kelihatannya ada sejumlah orang yang terus saja mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya. Baik itu meraih beasiswa studi ke luar negeri, memenangkan suatu pertandingan kelas nasional atau internasional, atau memperoleh peringkat pertama di kelasnya. Hal-hal bagus itu sepertinya kebetulan saja terjadi dalam hidup mereka.

Namun, sukses tidaklah identik dengan keberuntungan. Sukses adalah tentang persiapan dan pilihan. Dengan sekadar memposisikan diri untuk meraih sukses saja bisa membawa suatu perbedaan besar. Bagi anak remaja, hal itu dapat berarti mendidik diri mereka sendiri dan berusaha belajar dari orang lain yang telah sukses dalam suatu bidang yang sangat diminati oleh anak-anak remaja kita.

Buatlah langkah-langkah itu sekecil mungkin. Setiap tugas sebesar apa pun dapat dipecah-pecah menjadi hal-hal kecil. Mencapai kemenangan-kemenangan kecil di sepanjang jalan yang dilalui anak remaja menuju tujuan yang lebih besar dapat menciptakan momentum, yang membuat perjalanan itu sendiri menjadi lebih mudah untuk dilalui.

Langkah kedua itu sama pentingnya. Langkah pertama sangatlah kritis, begitu pula langkah kedua. Banyak orang yang memulai suatu tugas atau pekerjaan atau rencana mereka dan terlalu cepat menghentikan langkah mereka di tengah jalan. Tanpa mengambil langkah kedua, momentum tidak akan bisa tercipta.

Ajarilah anak-anak kita bahwa mereka akan menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Mereka mempunyai dua pilihan: menghentikan langkah mereka atau berusaha menarik pelajaran penting dari pengalaman kegagalan mereka. Ini sama halnya dengan proses seorang bayi belajar berjalan atau seorang anak kecil belajar menendang bola dalam olahraga sepakbola. Kemampuan berjalan atau menendang bola yang baik tentunya tidak akan terjadi dalam sekejap, tidak dalam percobaan pertama, kedua, atau ketiga. Hal ini memakan waktu berbulan-bulan. Itulah yang dinamakan proses yang terdiri dari langkah-langkah kecil menuju sesuatu yang besar.

Perjalanan tanpa akhir
Dunia ini selalu berubah. Teknologi berkembang lebih cepat. Informasi disebarkan dan diciptakan dalam kecepatan luar biasa. Supaya tetap mampu mengikuti perubahan yang terus berlangsung, sangatlah penting bagi anak-anak kita untuk selalu terbuka mempelajari hal-hal baru. Didiklah mereka bahwa seperti halnya dunia ini, mereka tidak akan pernah hanya diam di tempat saja. Ia akan selalu berubah, entah itu berubah ke arah yang lebih baik atau tidak. Dirinya sepuluh tahun mendatang tidaklah sama dengan dirinya saat ini.

Pastikan mereka memahami bahwa dalam upaya menentukan arah tujuan hidup mereka, hal itu tidak didasarkan pada satu pilihan besar. Melainkan merupakan serangkaian pilihan yang berkelanjutan. Anak yang berangkat remaja sedang berada di tahapan hidup di mana ia memiliki peluang besar untuk mengembangkan perilaku dan kebiasaan positif untuk menjalani pembelajaran yang sifatnya berkelanjutan.

Bagaimana anak-anak kita (terutama remaja) agar mampu mengikuti perubahan-perubahan dan tetap mampu mempelajari hal-hal baru? Berikut ini ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk memudahkan menjalankan semuanya itu.
1. Pelajari cara kerjanya dan apa yang perlu dilakukan.
2. Belajar sambil dipraktikkan.
3. Mencari seorang ahli di suatu bidang yang diminati remaja kita. Orang ini nantinya dapat membimbing berdasarkan pengalaman-pengalamannya.

Belajar dari seorang ahli yang telah mengalami sukses dan gagal akan sangat berharga. Bantulah remaja kita menemukan tim pendukung mereka. Dari siapakah mereka bisa belajar? Siapakah yang dapat membantu mereka mencapai sasaran mereka? Bantulah mereka untuk membuat janji bertemu dengan orang-orang ini yang sekiranya bisa dengan mudah dihubungi dan bersedia untuk membimbing anak kita.

Apabila anak-anak kita belajar apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan, dan jika mereka dapat menemukan jalan untuk menerapkan pengetahuan itu dalam hidup mereka, anak-anak kita akan dapat memulai perjalanan mereka menuju sukses dengan awal yang sangat baik.
Read more

Selasa, 02 Januari 2018

Mengenalkan Kata Maaf dan Memaafkan Kepada Anak

Kata maaf kadang mudah diucap tapi sering hanya di mulut saja. Padahal, keikhlasan memaafkan akan jauh lebih membahagiakan. Untuk itu, buah hati kita perlu diajarkan lebih dini untuk memberi dan meminta maaf dengan segera.


Suatu kali, tiba-tiba buah hati kita mengadu. Mereka mengaku telah membuat teman mereka menangis, karena sebelumnya teman mereka telah lebih dahulu melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan. Mereka hanya membalas. Mendengar apa yang mereka katakan, apa yang harus kita lakukan? Mengajak mereka mengurai masalah, lalu jika ternyata mereka yang salah lantas mengajak mereka ke rumah temannya? Atau membiarkan saja, karena kita pikir itu bukan kesalahan buah hati kita, tapi kesalahan temannya juga?

Masalah ini sebenarnya hanya masalah kecil. Tapi justru belajar dari masalah kecil seperti ini kita bisa masuk pada pembahasan yang lebih besar. Yaitu pembahasan tentang bagaimana meminta maaf dan memaafkan dengan setulus hati. Bagaimana kata-kata maaf bukan hanya hadir di permukaan saja, tapi benar-benar merasuk ke dalam hati.

Tapi apa untungnya meminta maaf dan memaafkan sepenuh hati? Untungnya adalah anak-anak diajarkan untuk melupakan apa yang sudah berlalu dan memulai segala sesuatunya tanpa perlu menengok ke belakang lagi.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua untuk membuat anak-anak kita tahu bagaimana meminta maaf dan memberi maaf dengan cara yang baik dan benar, sehingga tidak ada luka dari pihak lawan dan juga dari pihak mereka?

1. Memaafkan Itu Penting Atau Tidak?
Memaafkan tentu saja tidak akan mudah dipahami bila kita tidak mengarahkan arti pentingnya memaafkan. Anak-anak di rentang usia mana pun ketika dekat dengan kita, akan menganggap kita adalah teladan untuk mereka. Maka ketika memaafkan itu kita anggap penting untuk anak-anak dan menjadi sesuatu yang berharga, tentu ada tahapan yang memang harus kita lakukan untuk mereka.

Kita tidak bisa sekedar berkata, “Kamu harus minta maaf.” Atau, “Kamu harus memaafkan.” Tapi kita harus memberi contoh sehingga mereka paham kenapa mereka harus melakukan hal itu. Contoh itu cepat sekali akan meresap kepada mereka bila contoh itu datangnya dari kita. Misal, tidak sadar kita menyakiti perasaan pengasuh anak-anak di rumah. Lalu kita langsung meminta maaf pada si pengasuh. Sehingga anak paham bahwa meminta maaf itu penting dan tidak boleh ditunda.

2. Lakukan Dari Hal Terkecil
Mengajarkan memaafkan yang paling efektif adalah dari rumah kita sendiri dan dari hal-hal yang paling kecil, bahkan harus dimulai dari hal-hal yang justru sering kita sepelekan. Hal-hal kecil itu akan lebih efektif lagi bila bukan sekadar dari apa yang mereka lihat. Tapi bersentuhan langsung dengan mereka.

Ketika kita tidak sengaja menginjak kaki mereka ketika sedang berjalan, kita bisa langsung mengucapkan kata maaf. Atau ketika anak melakukan kesalahan seperti tidak sengaja memecahkan gelas koleksi kita dan mereka sudah minta maaf, kita harus memaafkannya. Dan setelah bicara menjelaskan, harusnya dianggap selesai. Tidak perlu mengungkit-ungkit lagi sehingga anak menjadi terluka karenanya.

3. Coba di Lingkungan Pergaulan
Setelah kita berhasil memasukkan makna kata maaf dan memaafkan, maka langkah berikutnya adalah menjajal dalam pergaulan mereka sehari-hari. Sebab, anak-anak kelak harus hidup di luar, jauh dari kita.

Untuk itu, pantau anak-anak dalam caranya berinteraksi dengan teman-temannya. Di rentang usia balita pasti akan jauh lebih mudah memantaunya. Sebab pada rentang usia itu mereka sedang belajar bagaimana caranya berinteraksi dengan teman-teman. 

Ketika kita melihat mereka melakukan kesalahan, jangan tunda untuk mengajarkan mereka meminta maaf. Kita ajarkan mereka untuk mengulurkan tangan minta maaf pada temannya. Dan ajarkan temannya juga untuk menerima maaf darinya. Biasanya tindakan seperti itu akan mudah ditiru oleh anak yang lain.

4. Memaafkan Itu Artinya Aktif
Buah hati kita tentu tidak akan paham apa makna memaafkan secara aktif, bukan pasif. Sebab, banyak dari kita sebagai orangtua kerap memaafkan orang lain itu secara pasif. Begitu kita terluka, kita memaafkan secara mulut, tapi tidak secara hati. Hubungan kita renggang serenggang-renggangnya, bahkan mungkin kita tidak mau lagi mengenali orang itu.

Memaafkan secara aktif berbeda. Ketika kita ingin mengajarkan memaafkan secara aktif, artinya ketika buah hati kita bermusuhan dengan temannya, maka kita menjadi saluran untuk mereka agar saling bermaafan. Bahkan ketika buah hati kita masih tidak mau berteman dengan temannya itu, kita sebagai orangtua bisa berlaku aktif dengan mengajak anak kita ke rumah temannya itu.

5. Sedalam Apakah Luka Itu?
Memaafkan tentu saja berkaitan dengan seberapa dalam efek ketika orang lain menyakiti perasaan anak kita. Ketika anak kita berkata bahwa ia tidak mau lagi berteman dengan temannya, kita sebagai orangtua harus tahu dan bertanya apa penyebabnya. Seperti apakah perlakuan temannya itu hingga mereka tidak mau lagi berteman?

Akan menjadi mudah bila mereka bercerita sehingga kita bisa mengarahkan pada mereka. Luka yang dalam bisa terjadi karena anak-anak memang tidak pernah dipersiapkan untuk terluka atau anak-anak tidak pernah diajarkan untuk melupakan luka itu.

6. The Best Thing is Communication
Komunikasi memang selalu menjadi efek terpenting dalam tumbuh kembang hubungan kita dengan anak-anak dan hubungan anak-anak dengan teman-temannya. Jalinlah komunikasi yang baik dengan anak-anak dan biarkan mereka bebas bercerita tanpa takut salah dengan kita. Sehingga, ketika kita ada sesuatu hal yang melukai anak-anak kita dapat cepat mengetahuinya.

Semoga, dengan beberapa kiat tersebut, maaf dan memaafkan bukan lagi menjadi perkara yang sulit lagi. Mari, biasakan diri kita sendiri untuk saling memaafkan, sehingga anak-anak pun akan meneladani tindakan kita agar hidupnya kelak penuh kebahagiaan, karena lapangnya hati akibat sudah terbiasa memaafkan.
Read more

Senin, 25 Desember 2017

Makna Dari Ulang Tahun


Ulang tahun biasanya membawa arti tersendiri bagi setiap orang yang sedang memeringatinya. Bagi yang beranjak remaja lebih berarti kebahagiaan, menandai bertambahnya usia untuk menjadi lebih dewasa. Ini sering disertai dengan pesta dan kemeriahan menerima peluk cium serta hadiah dari keluarga dan kerabat yang mencintainya. Sungguh momen yang menggembirakan dan mungkin tak terlupakan. Kata anak saya sewaktu kecil saat ulang tahunnya dirayakan, "Enak ya Ma ulang tahun. Kalau bisa sering-sering ulang tahun Ma, biar dapat banyak kado hahaha..."

Ulang tahun sejatinya memeringati sebuah perjuangan seorang perempuan, ketika bertaruh nyawa mewujudkan keberadaan setiap kita di bumi ini, yang dijuluk penuh cinta sebagai Ibu, Ibunda, atau Mama.

Sedangkan ulang tahun bagi saya, bukan sekadar mengingatkan perjuangan dan cinta mama saja, tetapi sejak tepat usia saya di angka 34, sekaligus memeringati pula hari wafatnya mama tercinta. Benar, mama meninggal tepat di tanggal ulang tahun saya.

Beberapa hari setelah meninggalnya mama (dan ulang tahun saya), seorang keponakan yang punya kemampuan sixth sense khusus menyampaikan ke saya, "Bu, yang kuat ya. Emak pergi di tanggal ulang tahunmu artinya Emak ingin saat kamu mengingat Emak sekaligus juga ingat akan keluarga semua dan menitipkan keluarga besar ini ke kamu." Maka, setelah itu, setiap ulang tahun saya memilih pulang ke kampung halaman, mendoakan orangtua, daripada merayakannya bersama keluarga di Jakarta.

Mama adalah sosok penuh kharisma, pejuang kehidupan yang luar biasa, figur papa sekaligus mama (karena papa meninggal saat saya berusia 19 bulan, sehingga mamalah yang berperan penuh di kehidupan saya), dan masih banyak lagi predikat yang membanggakan di seputar sebutan Mama. Tetapi, predikat selamanya tidak akan melebihi kebesaran subjeknya.

Sungguh saya bersyukur pernah memiliki seorang mama seperti itu. Dengan kelebihan dan kekurangan beliau, kami anak-anaknya mencintai dan menghargai beliau dengan cara kami masing-masing. Tanpa Mama yang hebat, mungkin tidak akan ada anak-anak yang hebat pula. Dan pesan Mama yang tersirat saat beliau pergi, seakan mampu membuat saya tak kuasa berpaling setiap ada masalah di keluarga besar kami, untuk sekadar bersimpati dan mengulurkan bantuan berupa apa pun yang dibutuhkan dan mampu saya lakukan.

Seperti kita ketahui, tidak ada sekolah yang mengajari bagaimana menjadi orangtua. Yang ada, setelah menikah dan kemudian punya anak, tiba-tiba status kita berubah menjadi seorang ayah atau ibu. Dan sejak saat itu, proses belajar sebagai orangtua pun terjadi secara alami. Ketika dulu kita sebagai anak, ada hal-hal yang kita pelajari dari cara orangtua kita dalam memelihara dan mendidik anak. Setelah kita menjadi orangtua, sebagian pelajaran itu bisa kita adopsi, sebagian kita tinggalkan. Ketidakcocokan pola didik bukan untuk dipersalahkan atau menjadi bahan perbandingan. Setidaknya, guru pertama dalam mendidik dan memelihara anak adalah orangtua kita sendiri. Dan jika suatu saat kita menjadi orangtua, otomatis kita pun menjadi guru bagi putra putri kita sendiri.

Di keluarga kecil kami, ada sebuah tradisi yang kami ajarkan ke anak-anak. Setidaknya dua kali dalam setiap tahun, mereka harus melakukan namaskara (semacam tradisi "penghormatan") kepada orangtuanya, yakni, di hari ulang tahun papa atau mamanya, dan di hari ulang tahun mereka. Menurut saya, sangatlah penting melakukan kegiatan semacam itu, setidaknya mengingatkan pada mereka, bahwa anak adalah bagian dari mama dan papanya, begitu pun sebaliknya. Selayaknya di antara keluarga harus saling perhatian dan menyayangi.

Semoga dengan pengetahuan ini, apa pun status kita, sebagai anak maupun orangtua, kita mampu menjalaninya dengan sebaik-baiknya, lebih bijak dan bahagia.
Read more

5 Cara Jitu Mengajarkan Anak Menyelesaikan Masalah


Menyelesaikan masalah bisa diajarkan sejak dini pada anak-anak kita. Hal tersebut, bisa menjadi bekal penting kehidupannya kelak. Bagaimana caranya?

Masalah bukan hanya milik orang dewasa. Masalah juga bisa dihadapi anak-anak kita. Masalah-masalah kecil yang biasa dihadapi anak-anak, paling banyak terjadi biasanya karena interaksi dengan teman-temannya.

Mengajak mereka menghindari temannya agar tidak menjadi suatu masalah, bukan cara yang paling efektif. Sebab sikap seperti itu hanya akan membuat anak tidak terlatih untuk memecahkan masalah. Padahal kelak di masa depan, mereka akan menghadapi masalah kecil yang ketika tidak dicari akar permasalahannya, akan menjadi suatu masalah besar yang bisa jadi membuat mereka depresi.

Orangtua yang baik adalah orangtua yang memiliki pandangan jauh ke depan untuk anak-anak. Melatih anak-anak sejak dini untuk memecahkan masalah, akan menjadi solusi efektif agar kelak anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bukan sekadar besar raganya, tapi juga besar jiwanya.

Berikut  ini 5 cara jitu untuk mengajarkan anak menyelesaikan masalah. Bisa kita coba, untuk membentuk mentalitasnya sebagai anak yang cerdas dalam menyelesaikan masalah:

1. Ajarkan Anak untuk Berpikir Logis
Berpikir secara logis adalah berpikir kritis dengan melihat baik dan buruknya suatu masalah dengan tidak menambah dan menguranginya.

Lalu bagaimana cara kita untuk mengajarkan berpikir logis itu pada anak-anak? Anak-anak peniru yang ulung, mereka akan melihat bagaimana cara kita berpikir secara logis. Ketika mereka mengadu bahwa kaki mereka luka karena ulah temannya, maka setelah itu mereka akan melihat reaksi kita.

Jika setelah itu kita melarang mereka main dengan teman mereka tanpa pertanyaan lebih lanjut pada mereka, itu artinya kita tidak mengajarkan berpikir logis pada mereka. Tapi jika kita berpikir secara logis, maka kita akan bertanya pada anak detail kejadiannya lalu minta anak membuktikan. Sehingga mereka paham bahwa ketika bercerita dengan kita, maka unsur kebenaran sangat penting.

2. Beri Masalah, Lihat Bagaimana Mereka Memecahkannya.
Anak-anak kita tidak akan mengenal masalah bila kita tidak mengenalkan masalah pada mereka. Cara sederhana untuk membantu mereka memecahkan masalah adalah ketika mereka sedang bermain. Banyak permainan yang sebenarnya bisa mereka jadikan pelajaran kalau kita tidak terlalu over protective terhadap mereka.

Ketika mereka bermain dan tersandung sebuah batu, biasanya orangtua langsung menyingkirkan batu itu. Ada juga yang langsung memeluk anak dan mengatakan bahwa si batu nakal. Padahal, untuk membuat anak berpikir logis dari masalah itu adalah dengan mengajaknya berdiskusi setelah tangisnya reda.

Anak jatuh karena apa? Lalu ketika anak menyalahkan si batu seperti ia melihat contoh dari teman-temannya ketika terjatuh, kita bisa ajarkan bahwa batu itu tidak salah ada di situ. Mungkin saja ada orang yang meletakkannya dan lupa mengembalikan batu itu ke tempat semula.

Ajarkan untuk memindahkan batu ke tempat yang benar dan nasihatkan bahwa lain kali hati-hati ketika sedang berlari. Dengan begitu anak belajar mengolah informasi secara logis dengan tidak menyalahkan orang lain, tapi berusaha meningkatkan kewaspadaan dirinya sendiri.

3. Pancing Dengan Permainan Edukatif.
Banyak permainan anak-anak yang sudah ditinggalkan oleh orangtua dengan alasan tidak penting. Dengan alasan itu juga, waktu bermain yang sangat dibutuhkan anak untuk melatih motorik juga strategi untuk mengambil langkah tepat dan akurat, diganti menjadi jadwal les yang terlalu padat. Dan diganti dengan interaksi anak-anak dengan game. Padahal, permainan itu mengajarkan banyak hal pada anak-anak termasuk pemecahan masalah.

Dalam permainan galasin (gobak sodor) anak-anak akan belajar bagaimana caranya menembus pertahanan lawan, dan mengambil celah ketika lawan lengah. Permainan ini juga mengajarkan koordinasi yang baik antara teman dalam satu tim sehingga tim mereka bisa memenangkan pertandingan.

Pada permainan kwartet, anak-anak dilatih untuk membaca ekspresi lawan untuk menebak kartu yang dipegang. Semakin sering mereka memainkannya, semakin lihai mereka menebak lawan yang mana yang memegang kartu yang mereka inginkan.

Begitu juga dengan permainan dakon alias congklak. Anak akan belajar bagaimana memikirkan jalan yang akan ditempuh lawan, lalu mereka juga akan membuat strategi sendiri sehingga lubang tempat mereka mengumpulkan batu dakon tidak kosong.

4. Cerita Interaktif
Mendongeng atau bercerita sebelum tidur bisa jadi adalah hal yang biasa. Anak-anak bisa menangkap pelajaran bijak dan mungkin menangkap makna yang diceritakan.

Tapi cara yang paling efektif untuk mengajarkan anak memecahkan masalah adalah dengan melibatkan mereka bercerita secara interaktif. Bagaimana caranya? Kita bisa memancing mereka dengan satu kalimat saja dan minta mereka untuk meneruskan.

Misal kita melemparkan kalimat seperti, kalimat ini. “Suatu hari, ada gajah bertemu kucing.”
Minta mereka untuk meneruskan kalimat yang kita rangkai. Cerna baik-baik kalimat yang mereka lemparkan. Arahkan pada satu titik persoalan.

Bisa jadi si anak menjawab, “Lalu kucing itu menangis”. Kita bisa lanjutkan lagi, “Kucing itu menangis karena tidak diajak bermain bola dengan teman-temannya.”

Anak yang biasa berpikir kritis pasti akan bertanya, apakah kucing bisa bermain bola? Suara kucing menangis seperti apa? Atau kalau kucing bermain bola, bagaimana gawangnya dan lain sebagainya. Dari percakapan tersebut, kita bisa mengarahkan mereka untuk membantu memecahkan masalah si kucing.

5. Beri Kepercayaan Diri
Sering orangtua tanpa disadari tidak mengajarkan anak-anak berproses untuk percaya diri. Orangtua menganggap anak-anak itu selalu kecil di matanya sehingga selalu siap sedia sepenuh hati untuk membantu.

Ketika mereka membuat rumah seperti kapal pecah, orangtua membiarkan anak-anak pergi berlalu saja tanpa pernah merapikan kembali mainannya. Atau ketika anak-anak melempar begitu saja tas atau sepatunya, orangtua siap sedia meletakkan di tempat yang benar. Hal-hal kecil seperti itu justru yang akan membuat anak selalu merasa bahwa ada orang lain yang bisa membantu dengan sigap untuk segala urusan mereka. Dampak lebih jauhnya, mereka tidak akan siap untuk melakukan apa-apa secara mandiri. Lebih jauh lagi untuk sebuah permasalahan dalam hidup mereka, mereka juga tidak akan mampu untuk memecahkannya.

Maka sebelum terlambat, berikan yang terbaik untuk buah hati kita. Termasuk memberikan pelatihan agar kelak mereka paham bagaimana menyelesaikan sebuah masalah dalam hidup mereka.
Read more

Apa Isi Hati Kita Hari Ini?


Alkisah, di sebuah klinik dokter spesialis anak-anak, seorang anak laki-laki bernama Jeremy sedang melakukan pemeriksaan rutin tahunan.

Sang dokter mengetuk dada Jeremy berulang kali dengan jarinya, "Apakah kamu dengar suaranya yang seperti rongga kosong?" Jeremy mengangguk.

"Nah itulah paru-paru kamu. Kamu tahu enggak, apa kira-kira isi paru-paru kamu?" tanya sang dokter.

"Isinya.. udara," jawab Jeremy.

"Ya, betul, itu isinya udara. Pintar sekali deh, kamu Jeremy. Nah kalau yang ini suara ketukannya adalah seperti mengenai suara benda padat bukan?, Nah di rongga sebelah dalam ada jantung (heart) kamu. Apa isi jantung hatimu?"

Pertanyaan sang dokter yang langsung dijawab mantap oleh Jeremy, "Kasih dan cinta."

“Ohhh pantas…! Pantas kamu selalu sehat, Jeremy!” Sang dokter tersenyum dengan sangat lebarnya.

Dear Readers,
Coba periksa apa isi hati kita hari ini? Apakah penuh dengan cinta kasih ataukah penuh dendam, amarah, kebencian, kegeraman...?

Jika bukan cinta kasih, hanya perasaan negatif, buanglah. Sebab semua itu hanya akan menyesakkan dada kita. Ingatlah selalu, agar jantung hati kita tetap sehat, kita perlu mengisinya dengan kasih dan cinta.

Jantung hati kita terisi kasih atau tidak, itu sesungguhnya tergantung pada kita. Jadi bukan karena keadaan lingkungan sekitar. Bisa jadi memang lingkungan sekitar kita tidak kondusif sehingga membuat kita selalu saja ingin marah dan kesal. Namun pada akhirnya semuanya tergantung pada diri kita. Apakah kita mau terus biarkan terisi amarah begitu. Atau menggantinya dengan kasih.
Demi kesehatan diri kita…. Keep love inside our heart…
"The best & the most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart." Helen Keller
"Keep love in your heart. A life without it is like a sunless garden when the flowers are dead." Oscar Wilde
Read more

Perlakuan Yang Berbeda


Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.

Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya. Menjelang malam hari, saat sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya berdiri diam di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan berdiri di situ!" hardik sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa kasar caranya berbicara tadi.

Ketika sang ibu berbaring di tempat tidur, suara hatinya berbicara, "Ketika berhadapan dengan seorang yang tak dikenal, kau bersikap sangat santun. Tapi kau malah memperlakukan anak yang kaucintai dengan kasar. Coba kau lihat lantai dapurmu, akan kautemukan serangkai bunga di dekat pintu. Itu bunga yang dibawakan anakmu untukmu. Dia memetiknya sendiri, bunga yang berwarna-warni cerah itu. Anakmu berdiri diam di dekatmu agar tidak merusak kejutannya, dan kau tak pernah melihat airmatanya."

Dengan segera sang Ibu menuju dapur dan di lantai masih tergeletak bunga berwarna merah muda, kuning, dan biru. Saat itu, sang Ibu merasa sangat menyesal. Airmatanya mulai mengalir. Lalu diam-diam, ia masuk ke kamar sang anak dan dengan perlahan duduk di tepi tempat tidurnya. "Bangun sebentar, anakku," kata sang Ibu. "Bunga ini kau petik untuk Ibu?"

Sang anak tersenyum meski matanya masih terlihat mengantuk, "Aku menemukannya, di dekat pepohonan. Aku petik karena bunganya cantik, sama seperti Ibu. Aku tahu Ibu pasti menyukainya, terutama yang biru."

Mendengar jawaban itu, sang Ibu semakin merasa bersalah, "Anakku, maafkan Ibu karena Ibu sudah kasar padamu tadi. Seharusnya aku tak meneriakimu seperti itu." Sang anak menjawab, "Oh, Ibu, nggak apa-apa, kok. Aku tetap sayang pada Ibu."

"Ibu juga sayang padamu. Dan aku memang suka bunga-bunga ini, terutama yang biru."
Tanpa kita sadari, cerita di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita bisa bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang baru kita kenal sekalipun, namun semua itu langsung berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang dekat kita. Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, agar ke depannya kita bisa lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui.
Read more

Penting! Tentang Generasi Milenium


Bicara memang mudah, tetapi jika kita harus bersabar ketika melihat kelakuan anak-anak kita pada zaman sekarang. Tidaklah mudah kita harus berempati dengan anak kita, ketika kita justru ingin agar mereka dapat bekerja sama dengan kita. Rasanya sukar sekali. Rasanya lebih mudah memarahi anak kita dan membuatnya mengerti mengapa kita marah, ketimbang kita harus memendam amarah kita serta menata emosi kita agar tidak lepas kendali pada saat berkomunikasi dengan anak. Hal seperti ini terkadang sangat menguras emosi kita.
Berkomunikasi dengan anak-anak generasi millenial memang sangat menantang, krena mereka adalah generasi yang dilahirkan dalam era dunia digital dan social media. Dampak perilaku sosialnya lebih banyak dipengaruhi oleh pergaulan mereka di dunia maya, daripada yang kita pikirkan atau asumsikan. Percayalah….!
Oleh karenanya, orang-orang yang mengerti dunia digital seperti misalnya Bill Gates, mengerti benar pengaruh-pengaruh buruk dari dunia digital ini. Jadi, ia tidak mengizinkan anaknya mempunyai handphone hingga usia 14 tahun. Begitu juga Mark Zuckerberg sang penemu Facebook. Ia sudah lebih dahulu dari Bill Gates menahan putrinya untuk tidak boleh bergabung dengan social media manapun hingga berusia 13 tahun. Karena mereka tahu bagaimana dampak social media atau dunia digital ini bagi perkembangan kejiwaan putra-putri mereka kelak.
Dan kalo kita mau jujur, hal Ini adalah kesalahan yang banyak sekali dilakukan oleh orangtua di Indonesia.
Pernahkan Anda melihat orangtua di restoran? Agar mereka bisa makan dengan tenang, maka anaknya diberikan tablet atau smartphone berisi game. Mengajarkan pada anaknya bahwa duduk makan dan berkomunikasi di meja makan, sudah tidak penting. Tidak jarang pula anak-anak dibiarkan nonton video sambil makan. Padahal ini adalah pendidikan buruk yang dapat membawa anak-anak menjadi obesitas (kegemukan) serta hidup yang tidak sehat.
Ada satu hal yang lebih berbahaya lagi. Melakukan hal seperti di atas sesungguhnya adalah mendidik anak tersebut untuk tidak menghormati serta mengabaikan orangtuanya atau orang-orang disekelilingnya saat sedang makan. Padahal makan adalah aktivtas terpenting dalam hidup ini.
A child who is allowed to be disrespectful to his parents will not have true respect for anyone.” (Billy Graham)
Ingatlah selalu bahwa anak-anak kita berkembang. Mereka berkembang baik dalam hal fisik, psikis, komunikasi dan lain-lainnya. Kita memang tidak perlu untuk menjadi orang suci atau menjadi orangtua sempurna. Karena sebagai manusia kita pun harus menyadari bahwa kita penuh dengan keterbatasan. Namun begitu, kita tidak boleh menyerah begitu saja untuk tidak menjadi orangtua yang baik bagi kaum milenial ini.
Diperlukan kesabaran yang super ekstra untuk mau mendengarkan anak milenial pada saat ini. Berkomunikasi dengan mereka yang menganggap kita “old fashion mindset” atau “kuno”. Komunikasi dengan menggunakan Bahasa Kasih atau Bahasa Cinta yang mengungkapkan betapa pentingnya arti mereka (anak-anak kita) dalam kehidupan kita.
Selalu luangkan waktu untuk bisa berkomunikasi dengan mereka dari hati ke hati.
Kata “TIDAK” atau “NO” tidak akan membuat anak kita mati. Jika dengan cara Kasih Sayang dan Cinta tidak bisa mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk anak kita, maka gunakan jurus terakhir yang disebut “Tough Love” jika perlu. Menahan gadget mereka 1 minggu, 1 bulan atau bahkan 1 tahun tidak akan membuat mereka menjadi ketinggalan zaman atau mati. Justru dengan cara ini, kita menyelematkan mereka untuk bisa berkomunikasi dengan kita sebagai orang yang mengasihi mereka.
Ingatlah ….
It is easier to build strong children than to repair broken men.” Frederick Douglass
Read more

Membangun Kebersamaan Untuk Keluarga Tercinta


Banyak keluarga, terutama di kota-kota besar, yang kadang merasakan waktu untuk hubungan keluarga sangat kurang. Apalagi, bagi pekerja kantoran yang setiap hari terjebak macet. Sampai-sampai, istilah "tak pernah kenal matahari" pun menjadi sesuatu yang lazim terjadi. Berangkat subuh, kembali larut.

Tak salah memang, asal kebersamaan dan komunikasi dalam keluarga tetap terjalin dengan erat. Namun, justru inilah yang kadang menjadikan keluhan banyak keluarga. Sebab, waktu yang tersita untuk pekerjaan sangat besar porsinya dibandingkan dengan waktu untuk keluarga. Paling, hanya libur Sabtu dan Minggu saja, jadwal untuk keluarga bisa dimaksimalkan. Itu pun dengan catatan, asal tak lembur di akhir minggu.

Akibatnya, karena terus-menerus didera kerja tak henti, komunikasi jadi tak lagi intens terjadi. Orangtua sibuk bekerja, anak pun “dididik” oleh pembantu atau sekolah saja. Parahnya, jika kedua orangtua bekerja, komunikasi ayah dan ibu pun sering kali jadi terkendala. Ujungnya, saat komunikasi mampet, harmonisasi keluarga jadi taruhannya.

Sebelum yang ditakutkan terjadi, ada baiknya kita segera mengoreksi diri. Ada kok hal-hal kecil yang jika dibiasakan bisa melanggengkan hubungan. Berikut ini ada beberapa kiat-kiat bermanfaat yang bisa kita terapkan agar—setidaknya—membuat jadwal supersibuk yang kita jalani lebih memiliki arti bagi sekeluarga:

1. Mulai hari ini, rencanakan lebih matang jadwal dalam sepekan
Jika selama ini belum sempat, buatlah daftar acara atau kegiatan yang diketahui oleh seluruh keluarga. Dengan cara ini, komunikasi tertulis setidaknya bisa membuat kita saling tahu apa yang akan dilakukan, minimal dalam sepekan. Ayah bisa menulis jadwal tetap di kantor, ibu pun demikian. Tak lupa, si kecil pun harus kita ketahui jadwal pasti sekolah atau ekstrakurikuler maupun les-les yang diikutinya.

2. Buatlah jadwal khusus kegiatan keluarga
Berdiskusilah dengan keluarga setiap akhir pekan atau setidaknya sebulan sekali. Buatlah jadwal kegiatan yang bisa melibatkan seluruh keluarga. Cobalah cek apakah ada tanggal libur ekstra di bulan yang akan dijalani. Jika perlu, ambil cuti tambahan agar bisa makin intens berkumpul dengan keluarga. Tak perlu pergi jauh, tapi setidaknya ada kegiatan yang bisa diprioritaskan untuk kebersamaan keluarga.

3. Biasakan membuat rekreasi keluarga minimal sebulan sekali
Jauh-jauh hari, jika memungkinkan, buatlah jadwal rekreasi keluarga. Seperti namanya, re-kreasi—atau kreasi ulang—sebenarnya bertujuan agar ada penyegaran atau kreasi dalam hubungan yang terjalin di sebuah keluarga. Pergi ke kebun binatang, nonton film bersama, bersepeda keliling, piknik kebun, atau aneka kegiatan mengasyikkan lainnya bisa kita pilih agar kebersamaan makin terjalin. Pastikan, semua keluarga menyenangi dan menikmati aktivitas rekreasi yang dipilih. Karena itu, libatkan semua keluarga dalam memilih acara sebelum diputuskan hendak ke mana.

4. Batasi waktu menonton televisi setiap hari
Menonton televisi memang menghibur. Kadang, bahkan dapat menjadi sarana relaksasi kita dari kesibukan bekerja seharian. Namun, jika kebablasan, waktu yang digunakan menonton televisi sering kali tanpa disadari malah bisa mengurangi waktu untuk keluarga. Untuk itu, jika memungkinkan, batasi waktu menonton televisi dan ganti dengan kegiatan bersama keluarga yang lebih bisa menjalin kebersamaan. Misalnya, main monopoli, ular tangga, atau beragam permainan mengasyikkan yang mengundang tawa.

5. Batasi juga penggunaan komputer dan internet
Jika memungkinkan, jangan bawa pekerjaan kantor ke rumah. Maksimalkan internet dan komputer di rumah untuk interaksi dengan anak, bukan untuk pekerjaan kantor yang tersisa. Untuk itu, bantulah si kecil mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dengan komputer. Saat itu, jalinlah komunikasi lebih intens dengan si kecil bersama dengan pasangan.

Read more

4 Tips Mengenalkan Kepada Anak Konsep Meminjam


Kita sebagai orangtua sering mendapati ada seorang anak yang senang sekali meminjam barang temannya untuk diakui sebagai barang miliknya, meski barang seperti itu sudah ia miliki di rumahnya. Sering kali anak juga tidak pernah bisa mengatakan "tidak" untuk barang yang baru ia miliki, baru ia sentuh, dan kemudian dipinjam oleh temannya dalam jangka waktu lama.

Proses pinjam-meminjam barang ini adalah proses pembelajaran yang bukan saja mengenai pemahaman yang harus dikenal oleh seorang anak. Tapi juga proses bagaimana orangtua mengajarkan sebuah nilai penting kepada anaknya, seperti bagaimana menghargai diri orang lain, menghargai diri sendiri, serta melihat nilai sebuah beda.

Masa usia 1-5 tahun adalah masa paling efektif untuk seorang anak merasa egois. Tapi pada masa itu juga masa efektif orangtua untuk mengenalkan nilai-nilai luhur lewat teladan sehingga anak paham tanpa merasa digurui.

Bagaimana pinjam-meminjam barang bisa menjadi suatu pembelajaran karakter dan kehidupan yang efektif untuk anak? Berikut beberapa hal yang bisa kita coba lakukan sebagai orangtua…

1. Jangan dipaksa
Ketika buah hati baru saja kita belikan sepeda yang sudah lama diimpikannya, lalu ia baru saja bermain lima menit dengan sepeda itu, tiba-tiba ada teman yang datang untuk meminjam sepeda itu, apa reaksi kita sebagai orangtua?

Kalau kita meminta buah hati kita meminjamkan sepeda itu, artinya kita belum mengajarinya meminjamkan barang dengan benar. Sepeda itu sepeda yang sudah lama diinginkan buah hati kita. Ia menanti kita membelikannya dalam tempo waktu yang cukup lama. Ia belajar menahan diri, mungkin untuk berbuat baik sesuai permintaan kita agar sepeda itu didapatkan. Jadi ketika sepeda itu ia mainkan lalu ada teman yang meminjam, wajar jika ia tidak ingin meminjamkan.

Dalam kondisi semacam ini, sebagai orangtua kita tidak boleh memaksa. Biarkan ia puas dengan sepedanya satu atau dua hari. Lalu setelah puas, ajak ia bicara dari hati ke hati tentang temannya yang memang tidak punya sepeda, yang kemudian ingin meminjamnya. Katakan bahwa sekali dua kali putaran mungkin akan memuaskan temannya. Sehingga, sepeda itu akan jadi barang yang bermanfaat untuk buah hati kita atau temannya.

Bila belum berminat juga meminjamkan pada temannya, kita sebagai orangtua harus bisa membuat alternatif seperti memasangkan boncengan sepeda di sepeda buah hati kita. Sehingga, buah hati kita dan temannya bisa saling bermain bersama sebagai pengemudi dan pembonceng.
Cara ini efektif untuk mengajarkan rasa berbagi tanpa merasa kehilangan. Sehingga, lama-kelamaan anak merasa percaya bahwa temannya memang bisa diajak untuk menjaga sepedanya.

2. Barang yang mana?
Ketika proses pinjam-meminjam tidak diajarkan sejak dini, maka ke depannya akan sulit untuk mengajarkan akan hal ini. Proses pinjam-meminjam bukan sekadar permainan sederhana atau sepele. Ini akan melebar menjadi sebuah prinsip dan pemahaman untuk anak. Anak tidak boleh meminjamkan sesuatu dengan terpaksa. Sehingga ketika mereka besar kelak, mereka akan tahu kenapa mereka harus meminjamkan barang yang mereka miliki.

Anak boleh meminjamkan barang yang mereka miliki tapi bukan barang yang bukan miliknya. Misal, mereka boleh meminjamkan mainan mereka untuk teman-temannya dengan batas waktu yang mereka tentukan. Atau mengajak teman-teman mereka bermain bersama. Tapi jangan pinjamkan barang yang bukan milik mereka. Seperti pajangan di rumah milik orangtua mereka, mereka harus berkata tidak pada teman yang ingin meminjamnya dengan alasan itu barang milik orangtua mereka. Ketika metode ini diajarkan pada anak-anak, itu artinya kita mengajarkan mereka juga hal lain seperti sikap tegas.

3. Jangan meminjam
Setelah sering dipinjam barangnya oleh teman yang lain, mungkin anak kita akan jadi terpengaruh, lalu merasa bahwa tentu saja ia boleh melakukan seperti yang sebagian besar teman-temannya lakukan padanya.

Bisa jadi kita menemukan barang milik temannya di rumah. Jika itu terjadi, ajak anak bicara, dan tanyakan kenapa ia meminjam barang milik temannya itu? Kalau ia bilang karena suka, biarkan ia menikmati kesukaannya itu. Lalu beri tenggat waktu satu hari. Lebih dari itu, barang di rumah akan terasa sebagai barang milik sendiri, sehingga akhirnya anak kehilangan tanggung jawab untuk mengembalikannya.

Ingatkan terus agar ia mengembalikan barang itu sehingga anak merasa tidak nyaman dengan barang milik orang lain yang ada di rumah. Dengan cara itu, kita juga mengajarinya bertanggung jawab untuk mengembalikan barang yang bukan miliknya.

4 Menyeleksi teman
Pelajaran dalam proses meminjam ini adalah anak-anak jadi belajar “memilih” mana teman yang cocok untuk mereka. Ketika kita terus mendampingi dengan berusaha menjadi teladan dan memasukkan prinsip yang baik untuk mereka, mereka jadi akan paham bagaimana menyeleksi teman mereka.

Teman yang suka merebut mainan mereka pasti lama kelamaan mereka tidak suka. Bahkan anak usia rentang dua tahun sudah membuat proteksi tentang hal ini. Teman yang suka meminjam mainan mereka dengan baik, akan lebih mereka sukai. Dan ke depannya tentu saja kita berharap segala prinsip dan teladan yang kita tanam untuk anak kita, akan berbuah manis. Mereka tahu bagaimana menempatkan diri dalam pergaulan dan memilih teman yang baik untuk mereka.

Semoga bermanfaat. Salam sukses Luar Biasa!
Read more

Membina Hubungan Baik Dalam Keluarga


Suatu pagi, di sebuah rumah, terdengar teriakan suara seorang ibu memberi perintah dan omelan kepada kedua putranya.

"Ayo, cepat. Makan jangan lambat-lambat begitu! Buku PR-nya sudah dimasukin ke dalam tas? Bercandanya nanti saja kalau sudah pulang dari sekolah. Ayo anak-anak, jangan terlambat, nanti kena hukuman lagi lho!" seru si ibu dengan nada tegas.

Tidak lama kemudian, setelah anak-anak berangkat ke sekolah, suasana hiruk pikuk pun akhirnya terhenti. Rumah pun menjadi sepi. Yang tertinggal hanyalah segala macam barang-barang berserakan: mangkuk, piring-piring dan gelas-gelas kosong, kamar mandi yang kotor, tumpukan baju bekas pakai, dan sandal yang entah ke mana pasangannya. Sambil menghela napas, si ibu melihat sekeliling dan merasa seakan semua pekerjaan bertumpuk telah menunggunya untuk disentuh dan dibereskan.

Tidak lama kemudian, si suami yang bersiap-siap hendak pergi ke kantor, dengan lantang berseru, "Bu, di mana dasiku yang berwarna biru? Tolong carikan, Bapak lagi buru-buru nih. Oh ya, kaos kakinya sekalian. Sarapannya dibawa saja ya, tolong siapin sekalian! Makasih Bu!"

Mendengar ucapan sang suami, dengan cekatan si istri membantu mencarikan barang-barang yang diperlukan suaminya dan memindahkan sarapan di meja untuk dibawa. Tak lama kemudian, dengan keberangkatan suaminya, kesunyian semakin terasa. Seisi rumah seakan lenyap dan menyisakan pekerjaan rumah yang menggunung.

Ada kepeningan dan kejenuhan yang melanda si ibu. Dia merasa tidak bahagia karena hari demi hari dilaluinya dengan kondisi yang nyaris sama, yakni selalu dengan beban pekerjaan rumah menumpuk. Hal tersebut membuat semua beban yang harus dipikulnya tidak tertanggung lagi.

Hingga suatu hari, untuk menenangkan pikiran, ibu itu pergi menengok neneknya yang tinggal di kota sebelah. Saat itu, ketika melihat cucunya tampak kusut, tidak terawat, dan bersedih hati, neneknya bertanya, "Aduh, cucu nenek kok kusut begitu sih. Ada apa cucuku? Ada yang ingin kamu keluhkan ke nenekmu ini? Ayo ceritalah, nenek siap mendengarkan."

Mendapatkan kesempatan mencurahkan sebagian perasaannya, sambil menangis ia mengisahkan semua keluh kesah dari apa yang dirasakannya. Di akhir cerita, dia bertanya, "Nek, apakah menikah, bersuami dan memiliki anak-anak berarti setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya? Sepanjang hari, bulan, tahun bahkan sepanjang masa? Sungguh aku lelah Nek, lahir batin. Sepertinya tidak ada lagi yang tersisa, sedikit saja untuk diriku sendiri. Apakah Nenek juga pernah merasa seperti itu? Tolong aku, Nek."

"Hmm.. aku mengerti perasaanmu. Nenek akan coba bertukar pengalaman. Namun sebelumnya, cobalah ikuti apa yang nenek perintahkan. Sekarang, cobalah pejamkan matamu. Coba bayangkan rumahmu tertata apik, rapi, dan bersih. Apakah kamu merasa senang, lega, dan bahagia?"

Setelah sejenak memejamkan mata dan membayangkan apa yang diperintahkan nenek, si ibu menjawab, "Ya, Nek. Aku bahagia berasa di tengah rumah yang apik dan resik." Sesaat, senyum simpul terlihat menghiasi bibir yang tadinya terlihat kecut dan banyak beban.

Melihat kondisi itu, si nenek kembali berkata, "Rumahmu kini apik dan resik, tetapi kosong. Tidak ada anak-anakmu di dalamnya serta kasih sayang suamimu juga tak ada. Apakah kamu mau?" Mendengar ucapan nenek, senyuman di wajah si ibu kembali menghilang.

Nenek pun melanjutkan ucapannya, "Kini, bayangkan wajah ketiga putramu yang sedang bermain dengan gembira sambil mengotori rumahmu. Bayangkan juga suamimu yang penuh semangat sedang menyiapkan kerja untuk menafkahi keluargamu."

Saat itulah, si ibu seolah tersadar akan sesuatu yang selama ini membebaninya. "Oh, aku tahu, Nek. Aku tetap memilih rumah yang berantakan tetapi dengan keluarga yang aku cintai di dalamnya, daripada rumah yang apik tetapi kosong dan dingin. Terima kasih, Nek. Ternyata keluargalah yang membuat rumah hangat dan mendatangkan kegembiraan."

"Cucuku, syukurlah jika kamu telah mengerti. Bila cinta yang mendasari kamu mengerjakan pekerjaan rumah, maka sebenarnya itu bukanlah beban, tetapi adalah tanggung jawab kita sebagai bagian dari sebuah keluarga. Setuju kan?" lanjut sang nenek. Si cucu pun mengangguk dan tersenyum gembira sambil memeluk sayanç neneknya.

Pembaca yang berbahagia,
Kejenuhan akan rutinitas yang dikerjakan sehari-hari, kadang membuat kita seakan terjebak di dalamnya. Kita seolah merasa, apa yang dikerjakan justru menjadi beban tak terkira. Akibatnya, kita akan merasa tidak bahagia. Padahal sejatinya, jika semua bisa dikerjakan dengan penuh cinta, semua beban berat hanya akan jadi "pijakan" mencapai kebahagiaan bersama.

Untuk itu, kepada para ibu di mana pun, jangan merasa rendah diri karena berstatus sebagai ibu rumah tangga. Itu sebuah tanggung jawab yang mulia! Tanpa kehadiran, cinta, dan pengabdian seorang ibu, lalu apalah artinya sebuah rumah tangga? Karena sesungguhnya, tidak akan ada pemimpin sehebat apa pun, tanpa seorang ibu yang melahirkannya. Tanpa seorang ibu, tidak ada siapa pun kita saat ini.

Begitu juga adanya diri kita. Jika merasa beban sudah memberatkan, cobalah lihat sisi lain dari apa yang sedang kita lakukan. Sebab pastinya, tak ada pekerjaan yang tak memberikan hasil nyata. Karena itu, lakukan semua dengan penuh tanggung jawab dan cinta. Sebab, sesungguhnya, tidak ada pekerjaan yang terlalu berat bila dikerjakan dengan landasan keikhlasan dan niatan mulia.
Lakukan semua dengan cinta. Berikan semua dengan kasih nyata. Maka hidup kita akan dipenuhi rasa bahagia!

Salam sukses luar biasa!!
Read more

Seikat Bunga Untuk Yang Terkasih


Sebagai makhluk sosial, kita punya ”harta” tak ternilai di sekeliling kita. Sikap saling menolong dengan ikhlas dan menghargai apa yang kita miliki akan menjadikan jiwa kita ”kaya raya”.

Alkisah, di siang yang cukup terik, tampak seorang gadis kecil berada sebuah kios bunga. Ia terlihat sibuk memegangi kantungnya. Beberapa uang receh menyembul dari balik sakunya. Sepertinya, uang itu adalah recehan yang dikumpulkan, entah berapa lama.

Dan, sembari satu tangan terus memegangi kantung kecilnya, tangan yang lain sibuk memilih bunga-bunga indah nan wangi yang ada di toko itu.

”Bang, berapa harga setangkai bunga yang ini?” tanya si gadis sambil menunjuk bunga berwarna merah yang cantik dan segar.

”Yang itu harganya 30 ribu, Dik. Mau beli berapa tangkai?”
”Oooh. Kalau yang di belakangnya, berapa harganya Bang?"
”Yang itu lebih murah sedikit, 25 ribu.”

Mendengar harga yang disebutkan, tampak wajah keraguan dari si gadis kecil. Ia pun berkali-kali melihat kantungnya. Sepertinya, ia sedang menghitung berapa uang yang dimilikinya. Akhirnya, meski dengan wajah kurang puas, gadis kecil itu pun akhirnya bertanya..

”Bang. Hanya ini uang yang saya punya. Bunga yang mana yang bisa saya beli dengan semua uang ini?” Tangan si gadis kecil mengeluarkan satu per satu recehan yang dari tadi menyembul di kantungnya. Uang yang tak seberapa itu lantas diberikannya kepada sang penjual bunga. Wajahnya tampak penuh harap. ”Semoga aku bisa tetap bisa tetap mendapatkan bunga indah itu, karena hanya ini yang aku punyai,” bisiknya dalam hati.

Si abang penjual bunga pun menerima uang itu dengan wajah enggan. Sejenak, ia kemudian segera pergi mengambil bunga yang diletakkan di pojokan. Meski masih tampak bagus, bunga itu sudah mendekati layu dan tak segar lagi. Saat bersamaan, tanpa disadari keduanya, ada seorang pemuda yang juga sedang memperhatikan bunga-bunga di sana dan tanpa sengaja ikut mendengar percakapan tersebut. Melihat si kecil dengan bunga yang nyaris layu itu, ia pun tergerak hatinya untuk membelikan bunga yang lebih segar.

”Adik kecil. Kakak boleh minta tolong? Pilihkan bunga untuk kakak ya?”

”Boleh, Kak. Bunga di sini cantik-cantik. Kakak ingin membeli bunga untuk siapa?” tanya si gadis dengan riang karena bisa memilih bunga-bunga cantik walaupun bukan untuk dirinya sendiri.

”Kekasih kakak berulang tahun hari ini. Bunga apa yang cocok?” ujar si pemuda dengan semangat tertular kegembiraan si gadis. Dengan cekatan, seikat bunga telah ada di tangan gadis kecil. ”Ini, Kak. Pacar kakak pasti senang menerima hadiah bunga yang indah dari orang yang dicintai.”

“Pak, ini semua berapa ya? Dan tolong sekalian, ambilkan bunga segar merah itu untuk adik kecil yang baik dan sudah menolong saya memilih bunga ini. Sedangkan bunga yang kurang segar untuk adik tadi, simpan saja. Ganti dengan bunga yang lebih segar itu,” pinta pemuda pada penjual bunga yang sedang memegang setangkai bunga  kurang segar yang tadinya hendak dibeli si kecil dengan uang recehnya.

Tanpa disangka, si gadis kecil menolak pemberian pemuda itu. ”Kak, saya membantu kakak memilihkan bunga karena saya memang suka dan rela, bukan hendak meminta dibelikan bunga yang lebih segar. Lagipula mamaku selalu mengajarkan, kita membantu orang lain harus dengan ikhlas, bukan untuk mendapat pamrih,” sebutnya seraya tetap meminta bunga yang tadi dibelinya dari si penjual bunga. ”Saya tetap beli dengan uang receh tadi bunga yang sudah dibungkus itu.”

Si pemuda pun terheran-heran dan sekaligus kagum dengan sikap si gadis kecil. ”Oke, kalau begitu, bunga itu silakan kamu bawa. Tapi, kakak tetap akan membelikan beberapa tangkai ini untuk mama yang hebat, yang sudah mengajarkanmu hal yang sangat mulia,” ujarnya sembari membayar beberapa tangkai bunga itu. ”Berikan bunga ini pada mamamu ya...”

”Terima kasih, Kak. Mamaku memang sangat suka bunga,” jawab si gadis sambil bergegas pergi dari situ.

Setelah meninggalkan kios bunga, si pemuda penasaran, siapa orang hebat yang sudah mengajari nilai budi pekerti pada si gadis kecil. Maka, ia pun mengikuti si gadis kecil. Tak disangka, gadis kecil itu berbelok arah ke sebuah area pemakaman. Dari kejauhan, si gadis bersimpuh di depan pusara sambil meletakkan bunga di atasnya.

Setelah menunggu sesaat, si pemuda lantas menghampiri, ”Dik, makam siapa ini?”

”Ini makam mamaku, Kak. Beliaulah yang sudah mengajarkan banyak hal padaku. Dan, ini adalah hari ulangtahunnya. Karena itu, aku menghadiahkan bunga ini padanya.”

Pemuda itu pun terkejut. Kejadian hari itu jadi pelajaran yang berharga untuk hidupnya. ”Dik. Terima kasih atas dua pelajaran berharga hari ini. Pertama, kakak sangat kagum pada nilai mulia yang ditanamkan pada dirimu, bahwa untuk membantu orang lain kita harus selalu tulus. Kedua, kakak masih punya ibu, tetapi sering melupakannya. Setiap kali ibu menelepon karena rindu, kakak selalu punya alasan tidak bertemu. Hari ini kakak sadar, jika telah di pusara, rindu sebesar apapun tidak kan mungkin bisa bertemu. Izinkan kakak ikut mendoakan mama kamu. Dan, kakak pun berjanji, akan lebih banyak memperhatikan ibu kakak."

Pembaca yang Luar Biasa!
Kisah tadi mengajarkan kita bahwa sebagai manusia, kita tak boleh lupa pada jati diri kita. Pertama, sebagai makhluk sosial, kita seharusnya selalu sadar hidup tak pernah sendirian. Karena itu, sikap saling menolong dengan tulus dan ikhlas harus selalu ditanamkan dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, sebagai manusia, sering kita sibuk dari pagi hingga malam dan kembali pagi lagi, mengejar target, berusaha mendapatkan apa pun, mencari segala yang belum dipunyai. Namun kita sering lupa menghargai apa yang telah kita miliki, termasuk keluarga, saudara, terutama kedua orangtua kita. Padahal, keluarga dan handai taulan adalah permata-permata berharga yang akan membuat kita menjadi manusia seutuhnya.

Mari mulai berbenah diri. Tanamkan nilai sosial dalam diri, serta agar kita mau lebih menghargai dan mencintai apa apa yang telah kita miliki, agar tak ada sesal di kemudian hari.

Salam hangat luar biasa!
Read more