Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Januari 2018

Hidup yang Penuh Kehidupan

Sadarkah kita hal terbesar apa yang kita miliki di dunia ini? Hidup! Ya, kesempatan untuk hidup adalah berkah yang tak bisa tergantikan oleh apa pun. Bayangkan. Kita menjadi manusia dengan mengalahkan jutaan bibit lain yang punya kesempatan sama untuk menjadi diri kita saat ini. Karena itu, dengan terlahir saja, sudah merupakan berkah yang luar biasa. Dengan menjadi manusia, kita sebenarnya telah mendapatkan “hadiah” luar biasa yang tak bisa dinilai dengan apa pun.



Sayangnya, kita sendiri yang malah sering menciderai berkah itu. Mendapat halangan sedikit saja, kita langsung menyerah. Mendapat ujian tak seberapa, segera surut langkah. Memperoleh musibah, kita sibuk mengutuk dan tak bisa berserah. Padahal, kita diciptakan dengan berjuta potensi. Dan, dengan menggali dan memaksimalkan potensi itulah, kita akan mendapatkan banyak kebaikan.

Mother Teresa, mendiang tokoh yang hingga kini demikian terkenal dengan rasa welas asihnya, pernah berucap, betapa berharganya hidup. “Life is life, fight for it,” serunya mengungkapkan betapa hidup harus diperjuangkan.

Untuk itu, kita juga harus tahu, untuk apa kita hidup. Dalam bahasa Jawa, ada istilah, urip mung mampir ngombe, hidup hanya “sekadar” mampir minum. Ini mengandung arti bahwa hidup sebenarnya sangat singkat. Karena itu, apa yang kita lakukan, apa yang kita perjuangkan, apa yang kita maksimalkan, itulah yang akan kita “tinggalkan”. Jika kita melakukan kebaikan, kita akan dikenang sebagai insan yang membawa keberkahan. Jika kita hanya melakukan kesia-siaan, maka kita pun hanya akan menjelma seperti buih di lautan, datang dan pergi seolah tanpa kesan.

Itulah mengapa saya selalu menekankan agar kita selalu memiliki target besar dan menantang. Sebab, dengan itulah, kita akan berjuang dan meninggalkan warisan yang selalu bisa dikenang. 

Coba kita telusuri jejak kehidupan orang-orang yang pernah berjaya pada masanya. Mulai dari legenda pencipta lampu pijar, Thomas Alva Edison, kisah John F. Kennedy yang ingin mendaratkan orang ke bulan, hingga tokoh-tokoh olahraga dunia seperti Michael Jordan di basket dan Muhammad Ali di tinju. Semua pasti punya target dan impian besar nan menantang yang akhirnya berhasil mereka taklukkan. Jangan lupa pula menyebut Mother Teresa yang hingga akhir hayatnya mendedikasikan hidup demi kehidupan orang lain. Atau, lihat juga kiprah Muhammad Yunus yang mengentaskan kemiskinan dengan mendirikan Grameen Bank sehingga berhasil mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. 

Dengan pencapaian itulah, sepanjang masa mereka akan dikenang orang. Mereka inilah contoh tokoh yang hidupnya mampu menjadi "terang" bagi sekelilingnya. Kita pun sebenarnya bisa menjadi seperti mereka. Tentu, dalam kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. Sebab, sejatinya, hidup itu sendiri mengandung makna terang atau menerangi. Tinggal pilihan kita sendiri. Apakah ingin menjadikan hidup suram penuh suasana muram, atau akan jadi hidup yang mampu menerangi diri dan sekeliling.

Sebuah ungkapan bijak mengatakan, “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” Meski kecil apinya, lilin mampu menerangi sekeliling. Lilin mampu “menghidupkan” suasana sekitar bahkan dengan nyala yang sangat redup sekali pun. Begitu juga kita. Maka, meski mengaku tak punya bakat apa-apa, dengan terus mau berjuang dan bekerja, memaksimalkan segala dan upaya, pasti ada hasil yang penuh makna.

Itulah mengapa sejatinya saat menghadapi kerasnya kehidupan, kita sedang “dihidupkan”. Gemblengan yang kita terima itulah yang akan terus menyalakan semangat untuk maju dan menjadikan diri lebih baik. Ibarat kupu-kupu dalam kepompong. Ia hidup sebagai ulat kemudian menjelma menjadi kupu-kupu nan elok bukan dengan kemudahan. Saat di dalam “rumah penggemblengan” berwujud kepompong,kupu-kupu menjalani hidup penuh siksaan. Namun, di sanalah ia sedang dibentuk agar bisa hidup dan mampu “menghidupi” sekitar dengan pesona keindahannya.

Mari, kita renungi hidup kita. Urip mung mampir ngombe seperti apa yang akan kita jalani? Setiap fase mampir ngombe masing-masing orang pasti berbeda. Ada ukurannya sampai 80 tahun, 60 tahun, atau bahkan di usia yang belia, tak lagi bisa mampir ngombe. Namun, yang terpenting, “minum” seperti apa yang kita jalani. Seperti tokoh legenda kungfu, Bruce Lee yang meninggal di usia 32 tahun. Sangat muda untuk ukuran kita. Tapi, masa mampir ngombe-nya yang singkat itu meninggalkan banyak “warisan” yang tak lekang oleh zaman. Bahkan, lebih dari 3 dekade sejak ia meninggal, sikap positifnya, kerja keras, semangat mewujudkan impian, dan karya-karyanya, terus “hidup” melampaui batas waktu dan usia.

Seperti Bruce Lee dan tokoh inspiratif lainnya, mari kita “minum” air kehidupan dengan penuh syukur dan semangat pembelajaran, serta keinginan berbagi dengan sesama. Kita maksimalkanwaktu mampir ngombe dengan hal positif yang membawa keberkahan sehingga hidup dan kematian kita kelak, akan penuh arti.
Read more

Kemampuan Melihat Jauh ke Depan

Visi ke depan sangat diperlukan untuk meraih kemajuan. Dengan dukungan semua pihak dan soliditas organisasi, perusahaan bisa terus berkembang hingga melewati batas zaman.


Pandangan jauh ke depan, visi ke masa depan, adalah sebuah “seni” dan kemampuan yang akan menjembatani impian dan kenyataan. Visi yang dijalankan dengan sepenuh hati, bukan akan jadi ramalan atau sekadar keinginan, tapi menjelma jadi hasil karya yang bisa mengubah peradaban.

Kita tentu ingat bagaimana Bill Gates bermimpi menghadirkan komputer ke seluruh rumah tangga di dunia. Atau, bagaimana pula seorang Sosrodjojo mampu mengubah tradisi minum teh dalam gelas menjadi teh dalam botol yang hingga kini mampu menguasai pasar minuman di Indonesia. Inilah bukti, bahwa kemampuan melihat jauh ke depan adalah prinsip yang harus dimiliki oleh semua pengusaha.

Tentu, untuk menjadikan prinsip tersebut sebagai tindakan yang akan mengubah “nasib” dan keadaan, butuh banyak pertimbangan dan perjuangan. Untuk itu, mari kita coba kupas beberapa hal yang bisa kita maksimalkan, agar visi yang jauh ke depan bisa menjadi “jembatan” menuju kemenangan...

1. Mampu menentukan rencana jangka panjang dan jangka pendek
Meski kita bisa melihat jauh ke depan, namun untuk sampai ke hal yang kita impikan, butuh langkah awal. Seperti pepatah Tiongkok Kuno, “Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah”. Untuk itu, dalam menjalankan kebijaksaan perusahaan, kita tetap perlu menentukan skala prioritas kerja berdasar rencana jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang bisa diimplementasikan melalui perencanaan strategis, seperti untuk menentukan fokus perusahaan. Sementara yang jangka pendek, bisa diwujudkan dalam kebijakan operasional sehari-hari perusahaan.

2. Selalu belajar, berpikir, dan bertindak sesuai strategi
Ada beberapa hal yang perlu kita pantau dan kendalikan, agar yang kita pikirkan bisa menjadi kebijakan strategis bagi perusahaan. Beberapa di antaranya bisa digali lebih jauh dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:
- Di mana posisi perusahaan atau bisnis kita saat ini?
- Ke mana perusahaan akan diarahkan?
- Sudah tepatkah arah perusahaan saat ini?
- Mengapa kita harus menuju arah tersebut?
- Cara apa yang harus kita tempuh untuk mencapai arah tersebut?
- Rintangan apa saja yang mungkin akan menghadang?
- Siapakah pesaing yang harus kita hadapi dalam upaya menuju target tersebut?
- Mekanisme kontrol seperti apa yang harus kita miliki agar perusahaan tak salah arah?
- dll

3. Memahami perlunya berpikir fokus pada strategi yang dicanangkan
Ada kalanya, berpikir jangka panjang dengan kondisi yang terus berubah menuntut kita bisa lebih fleksibel dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan. 

Jika itu terjadi, memang perlu pemikiran ulang tentang strategi jangka panjang yang telah ditetapkan. Namun, ada satu hal yang harus kita pegang. Yakni, bahwa apa pun yang kita lakukan, usahakan tetap pada koridor fokus usaha yang telah ditetapkan. 

Sehingga, “godaan-godaan” yang kadang mengganggu kelangsungan usaha, bisa kita minimalisir. Hal ini biasanya akan berdampak, misalnya pada saat pengembangan produk, bagaimana memasuki pasar persaingan terbuka, hingga mengantisipasi kebutuhan tren yang terus berkembang.

4. Mampu membangun organisasi yang solid
Dalam menentukan pandangan jauh ke depan, dukungan dari internal perusahaan sangat penting. Karena itu, untuk menciptakan organisasi yang saling dukung, perlu dibuat kesepahaman dalam menentukan strategi perusahaan. 

Salah satu yang perlu dikedepankan adalah menciptakan budaya perusahaan yang bisa dilaksanakan oleh semua pihak. Selain itu, iklim belajar untuk menciptakan perusahaan yang inovatif juga perlu dibangun. 

Dengan dukungan SDM yang mumpuni, punya rasa saling pengertian yang tinggi, proaktif untuk memajukan perusahaan, komunikatif, dan peduli pada sekitarnya, akan membuat perusahaan mampu melewati berbagai tantangan zaman.

Read more

Dahulukan yang Paling Penting!

Di sebuah sekolah perniagaan, seorang guru sedang menyampaikan mata pelajaran tentang ekonomi sosial. Tidak lama kemudian, di tengah pelajaran, dengan hati-hati ia mengambil sebuah stoples (tabung kaca) lalu meletakkannya di atas meja. Dengan diikuti tatapan mata ingin tahu dari para siswanya, dikeluarkannya sekantong penuh batu dari sebuah tas, dan memasukannya satu persatu ke dalam stoples itu; sampai tidak ada lagi batu  yang bisa dimasukkan.

 
Sambil menegakkan badan, sang guru bertanya kepada para siswanya, “Anak-anak, apakah stoples ini sudah penuh?”

“Ya!” jawab mereka yakin.

Sambil tersenyum, sang guru meraih tas kedua dari bawah mejanya yang berisi batu kerikil. Dia segera menuangkan batu-batu kerikil sambil menggoyang-goyangkan stoples. Dengan segera, batu-batu kecil tadi mengisi celah-celah yang terdapat di antara batu-batu besar yang telah ada di dalam stoples tadi.

Untuk kedua kalinya, dia bertanya kepada para siswanya, “Sekarang, apakah stoples ini sudah penuh?”

“Belum,” jawab para murid serempak, setelah tahu arah pertanyaan si guru.

Tentu saja mereka benar, karena sang guru mengambil lagi sekantong penuh berisi pasir halus. Dia menuang pasir halus ke dalam stoples untuk mengisi celah-celah di antara batu-batu besar dan kerikil-kerikil yang telah dimasukkan sebelumnya.

Lagi-lagi dia bertanya pada murid, “Nah, apakah sekarang stoples ini sudah penuh?”

“Mungkin penuh, mungkin juga belum penuh, Pak,” jawab salah satu siswanya.

Tersenyum mendengar jawaban itu, sang guru mengeluarkan seteko air dari lemari kelas dan menuangkan ke dalam stoples hingga air pun memenuhi permukaan toples. Dia meletakkan teko dan memandang ke seluruh kelas.

“Lantas, di sini, pelajaran apakah yang dapat kalian petik?”

“Tak peduli seberapa padatnya jadwal kegiatan kita, selalu akan bisa ditambahkan sesuatu ke dalamnya,” jawab seorang siswa.

“Bukan sekadar itu! Yang juga ditunjukkan di sini adalah masukkan batu-batu besar lebih dahulu, disusul batu kerikil, lalu pasir dan air. Dengan cara seperti ini, kita bisa memuat semaksimalnya ke dalam stoples. Artinya, ini adalah pelajaran tentang prioritas,” papar sang guru.

Serentak para murid pun mengangguk-anggukkan kepala, tanda mendapat jawaban dan pelajaran yang memuaskan.

The Cup of Wisdom

Pengertian tentang prioritas begitu penting. Seringkali kita melakukan pekerjaaan dengan hasil  yang tidak optimal, karena kita tidak mempioritaskan mana  pekerjaan yang penting dan mendesak untuk dikerjakan.

Kalau kita mampu memilah-milah pekerjaan dengan memprioritaskan atau mendahulukan pekerjaan yang penting dan mendesak, tentu apa yang kita lakukan akan efektif dan berdaya guna, dan  hasil yang didapat akan lebih maksimal.

Sebenarnya masalah pengertian prioritas itu sangat sederhana, namun membutuhkan latihan demi latihan dalam praktik pekerjaan atau kegiatan di kehidupan kita sehari-hari.

Mari, kita raih kesuksesan dengan cara membangun kebiasaan melakukan prioritas dalam aktivitas yang kita lakukan.
Read more

Beradaptasi Untuk Mencapai Sukses Sejati

Putaran kehidupan layaknya sebuah roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Hal ini sejalan dengan sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Mandarin, cuaca berisi badai dan awan yang tak terduga; hidup manusia ada waktunya malapetaka, ada waktunya anugerah.


Perputaran itu sendiri, kadang berjalan lambat (bersifat evolusi), kadang pula berjalan sangat cepat (revolusi). Semua itu adalah keadaan yang tak bisa kita tolak. Apalagi, sejak kemajuan teknologi informasi, di mana batas antarnegara seolah “hilang” dan disatukan dalam dunia maya. Hampir semua kegiatan yang berbatas oleh jarak dan waktu, kini sudah dengan mudah tinggal klik dan kirim, maka semua bisa terselesaikan. Peluang dan tren bisnis baru pun bermunculan. Di sisi lain, banyak bisnis lama yang terpaksa gulung tikar.

Karena itu, pemahaman "cuaca berisi badai dan awan yang tak terduga; hidup manusia ada waktunya malapetaka, ada waktunya anugerah", harus mampu kita dalami dengan perbuatan nyata. Salah satunya, yakni dengan kemampuan dan kemauan untuk beradaptasi menghadapi semua tantangan perubahan.

Kemampuan beradaptasi salah satunya harus dilandasi dengan sikap yang sering saya ungkapkan dalam pernyataan: cerdas, cermat, dan cekatan. Yakni, kita dituntut untuk cerdas dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang mengiringi perubahan di sekitar kita. Cerdas di sini bisa berarti mampu menciptakan inovasi baru untuk mengatasi berbagai masalah, hingga cerdas dengan sikap penuh bijak saat mengalami keterpurukan. Dengan kecerdasan yang berasal dari pola pikir positif dan otak yang diasah terus-menerus, akan menghasilkan tindakan terukur yang mampu jadi solusi bagi semua persoalan.

Kemudian, unsur berikutnya adalah cermat. Kita dituntut untuk mampu melihat dan menyikapi dengan jeli, apa yang terjadi. Sehingga, saat terjadi perubahan, kita tidak terjebak dalam sikap yang pasif dan hanya “menunggu keajaiban”. Tapi, kita proaktif dengan kecermatan tersebut untuk mencari titik di mana kita bisa bangkit saat terpuruk, dan tetap mampu bertahan ketika sudah di atas. Tentu, semua dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Karena itu, unsur cermat ini seharusnya mampu kita kedepankan untuk menghasilkan tindakan terukur yang membawa keberhasilan.

Terakhir, untuk menyikapi perubahan, kita juga dituntut untuk cekatan. Hal ini bisa kita maknai dengan mengedepankan unsur fleksibilitas saat beradaptasi ketika terjadi perubahan. Mereka yang tanggap terhadap perubahan akan dengan cekatan mencari berbagai kondisi yang bisa diubah jadi kesempatan meraih kemenangan. Untuk itu, kita dituntut mampu bergerak cepat, responsif, dan proaktif. Sehingga, dengan unsur cekatan tersebut, apa pun bentuk perubahan yang terjadi, kita bisa dengan cepat beradaptasi.

Mari, kita pacu diri untuk mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang ada, baik perubahan yang bersifat alami, atau pun karena pengaruh manusia. Dengan kesadaran penuh bahwa tak ada yang tak berubah, kita bisa menjadi “air”. Yakni, mampu menyesuaikan diri dengan apa pun bentuk wadahnya, dan mampu mengalir menerjang berbagai batasan. Dengan cara itu, kita akan jadi pemenang-pemenang dalam berbagai kompetisi perubahan kehidupan.
Read more

Minggu, 31 Desember 2017

Happy New Year - Dare To Change!

Menyongsong tahun baru 2018, tentunya banyak tantangan yang akan dihadapi. Banyak pula perubahan yang akan terus terjadi tanpa bisa dihalangi, seiring perputaran waktu. Untuk menghadapinya, sebagai insan Tuhan yang bertanggung jawab atas kehidupan sendiri, kitalah yang menentukan sikap kita sendiri: mau positif atau negatif, malas atau rajin, optimis atau pesimis.


Jika kita menghadapi Tahun Baru dengan sikap pesimis, maka yang muncul pastilah rasa takut, cemas, khawatir, prihatin, pasif, frustasi, depresi dan dan sifat-sifat negatif lainnya. Akibatnya sudah bisa dipastikan, semua bayangan itu akan jadi kenyataan sehingga membuat kita makin terpuruk.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang selalu memilih untuk berpandangan optimis, mereka sadar di balik setiap kesulitan terdapat kesempatan dan pembelajaran. Persis seperti apa yang dikatakan oleh ilmuwan besar Albert Einstein, "In the middle of diffuculty lies oppurtinities."

Orang optimis akan selalu menyadari keadaan dirinya saat ini dengan penuh rasa syukur. Mereka sadar, bahwa dengan mau mensyukuri keadaan yang ada, mampu memaksimalkan apa yang dimiliki, serta dilandasi kemauan berjuang habis-habisan, apapun bisa diatasi. Ini sangat sesuai dengan prinsip filosofi dasar yang selalu saya gaungkan, "Success is my right!" Sukses adalah hak saya!

Agar sikap optimis bisa membawa hasil maksimal, kenali 4 tipe sikap manusia berikut ini:

1. Pesimis pasif. Orang yang bersifat seperti ini, sudah pesimis juga pasif. Hidupnya penuh dengan pikiran negatif, kebimbangan, dan keraguan. Sehingga sebagus apa pun peluang di depan mata, tidak berani dan tidak bisa ia manfaatkan.

2. Pesimis aktif. Orang tipe ini, biarpun aktif, namun bekerja asal bekerja. Hidupnya asal hidup. Ia lebih percaya bahwa sukses adalah faktor kebetulan atau keberuntungan semata.

3. Optimis pasif. Orang tipe ini, sudah memiliki sikap optimis tetapi pasif dalam mengantisipasi kesempatan yang dihadapinya, sehingga hasilnya apa adanya.

4. Optimis aktif. Sikap inilah yang terbaik. Orang seperti ini hidupnya penuh optimisme, berinisiatif, kreatif, mau belajar, mau bekerja keras & bekerja cerdas, dan pantang menyerah, Sehingga ia bisa menggunakan semua potensinya dengan optimal. Pastikan, kita adalah tipe nomor 4!

Mari, dengan doa dan sikap optimis aktif, kita aktualisasikan diri, berani menentukan apa yang pantas diraih, serta siap memperjuangkannya. Kita tanamkan dalam hati di setiap langkah: setiap bulan, setiap minggu, setiap setiap hari, setiap saat.. penuh harapan dan kesempatan! Berani berubah untuk menggapai sukses di tahun yang baru.

Selamat Tahun Baru 2018!
Dare to ChangeBe Spectacular!
Read more

Cerita Kopi dan Hujan

 

Kamu tahu....
Kopi dan hujan punya banyak cerita dan makna
Ada yang bilang mereka sama-sama romantis...
Ada yang bilang mereka adalah memory...
Ada yang bilang mereka adalah kesederhanaan dan kejujuran...

Kamu tahu...
Hujan dan kopi selalu meninggalkan jejak...
Walaupun hanya sementara
Sama seperti sebuah rasa
Kadang sepi, kadang bahagia
Damai disaat sepi, namun sepi dikala ramai

Mungkin ada yang berpikir,
Ah... rasanya tak mungkin,
Hanya kopi dan hujan, apa yang bisa dirasakan? hanya pahit dan basah
Hanya sesederhana itu? karena kenyataan yang kadang rumit
Tapi jika kamu mampu memahami sebuah sajak dan puisi yang tercipta melalui hujan dan kopi
Kamu tak mungkin bisa menyangkal
Mungkin hanya karena hujan dan kopi
Semua menjadi sangat berarti
Hal sederhana dalam hidup, kebahagiaan kecil, dan ketentraman hati
Mereka murni,..
Hitam dan menenangkan
Sejuk,.dan mendamaikan
Berbagi rasa berjuta rahasia, seromantis itu..
Read more

Cerita Embun Dan Daun

Aku kembali melihatnya hari ini. Dan ini yang ke .... kira-kira lima kali. 

Entah kenapa meski aku tak tahu siapa dia, aku selalu suka memperhatikannya diam-diam. Emm.. kita sebut saja dia 'Daun'. Dia memiliki bola mata coklat dengan sorot mata yang teduh. Rambut ikal hitam, lumayan jangkung, dan kulit kuning langsat - tapi cenderung lebih putih dari kuning langsat, sih.

Setiap kali ia tersenyum, rasanya aku ingin ikut tersenyum. Tapi aku nggak mau melakukan itu. takut disangka gila!


Semua berawal sebulan lalu, ketika aku akan ke ruang Departemen Sastra Inggris untuk menanyakan tugas Linguistic. Aku melihat Daun diinterogasi oleh salah seorang dosenku dan kedua temannya. Dia diinterogasi perihal cuti kuliah dan penyebab ia harus menggunakan tongkat untuk membantu semua aktivitasnya. Aku bisa mendengar karena kebetulan volume suara si penginterogasi dan yang diinterogasi lumayan keras. Di samping itu, entah kenapa aku penasaran. Entah kenapa aku terkesan olehnya. Oleh Daun yang kala itu terlihat gembira dan sangat tegar ketika harus menjawab pertanyaan yang mungkin bisa membuka trauma yang ditimbulkan akibat kecelakaan yang menimpanya.

Seusai menanyakan tugas Linguistic, aku kembali menemukannya. Ia sendirian. Sudah tak ada lagi si penginterogasi. Dia duduk di bangku coklat memanjang dengan tangan kanan yang memegang kedua tongkatnya. Aku memandangnya sekilas. Mencoba merasakan apa yang ia rasa. Tapi aku tak bisa dan tak mau. Dalam hati aku bersyukur masih tetap normal sampai sekarang. Aku bersyukur Allah SWT masih mengutuhkanku. Detik itu, Daun seolah menjadi pengingat akan betapa selama ini aku kurang mensyukuri keadaanku yang sehat wal'afiat.

Dan, Daun membuatku terkesan. Detik itu pula, di saat aku memandangya, entah kenapa aku berharap dapat kembali berjumpa dengannya lain waktu. Aku berharap bisa kembali melihat senyum dan eskpresi bahagianya. Aku berharap bisa curi-curi pandang dan merasakan getaran hati di setiap aktivitas curi-curi pandangku. Aku berharap tetap menyukainya seperti saat aku mengetik tulisan ini meski bahkan ia sama sekali tak tahu aku.

Aku berharap merindukannya seperti saat ini, 16:46 WIB.

"Embun kembali menemukan daunnya. Ia tak tahu sampai kapan beningnya menetes di atas lembar hijau itu. Ia belum tahu kapan akan berheti karena ia justru baru akan memulai tetesan baru. Dan... Embun belum mau berpikir kapan Daun akan jatuh"

Salam dari Embun.
Read more