Tampilkan postingan dengan label Budaya & Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya & Hiburan. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Desember 2017

Filosofi Jawa: Tidak Bergerak, Tidak Makan


Banyak peristiwa telah terjadi di sepanjang jalan kehidupan yang kita jalani. Banyak kondisi baik disuka atau membuat nestapa datang silih berganti. Gejolak politik, bencana, hingga kerusuhan masih menjadi beberapa berita dari negeri kita tercinta. Ada yang merasa sulit, ada yang merasa mudah. Ada yang senang dan sebaliknya ada pula yang sedih. Semua itu adalah bagian dari “dinamika kehidupan” yang acap tak bisa kita tebak ke mana arahnya.

Pesan saya, apa pun yang sudah berlalu, jangan menyesal. Apa yang belum datang, jangan dikhawatirkan. Tugas kita sejatinya adalah dengan memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan saat ini. Apa yang sudah ada pada kita, itulah yang jadi bekal kita untuk menjadikan esok lebih baik. Apa yang ada di tangan kita itulah hal yang patut kita syukuri dengan memanfaatkannya secara maksimal untuk mewujudkan berbagai pencapaian lain.

Memang, apa yang akan terjadi pada esok hari tak pasti. Begitu juga apa yang akan terjadi di bulan-bulan berikutnya. Karena itu, apa yang bisa kita jalani hari ini, sudah jadi tugas kita untuk dimaksimalkan. Termasuk, jika saat ini penuh dengan tantangan dan cobaan. Ingat, di setiap kesulitan atau kondisi yang memberatkan, selalu saja muncul “nilai keseimbangan baru” bagi mereka yang berjuang dan berupaya. Apakah kemudian berhasil melakukan berbagai penghematan, bisa mendapatkan penghasilan tambahan, atau bahkan menciptakan peluang yang tadinya belum terpikir jika tak ada keadaan yang memaksa.

Menyikapi berbagai kondisi yang terjadi, saya ingin pula membahas sebuah ungkapan bahasa Jawa yang sederhana, namun memiliki pengertian sangat dalam untuk menyikapi apa pun kondisi yang terjadi. Ungkapan tersebut adalah ora obah ora mamah, atau arti harfiahnya “kalau tidak bergerak, tidak akan makan”. Artinya, jika kita tidak mau berusaha, berjuang, berupaya, bekerja, maka jangan harap untuk bisa makan, bisa mendapat hasil, bisa memperoleh keberuntungan.

Zaman dulu, kalau melihat mama yang sedang membuat adonan kue di pagi yang masih gelap gulita, saya kerap kasihan. Saya katakan kepada beliau, untuk istirahat sejenak. Tapi, beliau selalu katakan, kalau tidak bekerja sepagi itu, bisa-bisa kita tidak makan. Secara kasat mata, ingatan itu kemudian menancap kuat di memori saya. Sehingga, itu menjadi sebuah pengertian, kalau kita tidak mau bekerja keras, jangan harap bisa makan. Kalau kita hanya maunya santai-santai saja, jangan bermimpi jadi sukses luar biasa. Hal itulah yang terus mendorong saya untuk tetap berjuang, bekerja maksimal, bahkan saat tubuh dan pikiran sudah kelelahan. Kadang, saya harus memaksa diri sendiri jika mengingat kejadian itu. Hasilnya, apa yang saya canangkan pun meski kerap menghadapi batu sandungan bisa jadi kenyataan.

“Andrie, kamu pasti bisa. Dengan kerja lebih keras, tinggal tunggu waktu saja, pasti keadaan akan lebih baik,” begitu suara batin yang terus mengingatkan jika saya mulai kendor berkarya.

Ibarat ungkapan dalam sebuah lagu, what doesn’t kill you, makes you stronger, maka ujian dan cobaan—termasuk berbagai keadaan yang dianggap sebagai ketidakpastian yang memberatkan—sebenarnya adalah sarana untuk menjadikan kita lebih kuat dan lebih baik.

Mari, biasakan obah, agar kita bisa selalu mamah.
Salam sukses, luar biasa!!!
Read more

Filosofi Jawa: Menggapai Puncak dengan Bobot, Bibit, Bebet


Dalam kehidupan, kita sejatinya tercipta dengan keunikan masing-masing. Bahkan, seorang kembar identik pun, pasti memiliki keunikan yang berbeda-beda satu sama lain. Dan, karena keunikan yangberbeda itulah, manusia pasti memiliki peran dalam kehidupan, sekecil apa pun itu. Layaknya puzzle, satu keping tak akan berarti tanpa keping lainnya. Seperti juga sebuah pertunjukan teater atau film, seorang artis tak akan jadi sesuatu tanpa sutradara, penulis naskah, penata panggung, penata suara, atau penata cahaya. Semua itu saling terkait, tergantung, dan tak bisa lepas satu sama lain.

Inilah keunikan kita sebagai manusia. Maka, sejatinya, apa yang selalu saya ungkap, “Success is my right!” (sukses adalah hak saya, hak Anda, dan hak semua orang yang menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan sepenuh hati) adalah ungkapan bahwa sejatinya setiap orang punya potensi. Seseorang pasti memiliki bobot, bibit, dan bebet masing-masing.

Secara harfiah, bobot, bibit, bebet bisa diartikan sebagai nilai diri, asal mula, dan lingkungan kita. Ketiga unsur ini memang sebenarnya selalu terkait. Manusia terlahir dengan bobot sesuai dengan apa yang dimiliki, yakni keunikan tertentu yang sudah menyatu sejak dilahirkan. Kemudian, dari asal mulanya sering diartikan keluarga tempatnya dilahirkan ia mendapat bibit yang menjadi peletak dasar masa depannya. Sebab, pendidikan pertama dan utama memang berasal dari keluarga. Kemudian, dari unsur bebet, bisa diartikan bahwa seseorang akan menjadi seperti lingkungannya. Karena itu, jika ingin sukses, bergaul dan bertemanlah dengan orang yang memiliki pola sikap dan tindak-tanduk layaknya orang sukses.

Karena itu, dengan menyadari unsur bobot, bibit, bebet, kita seharusnya mampu menilai diri dengan mengedepankan nilai-nilai positif yang kita miliki. Dan, dengan keunikan tersebut, kita bisa berkarya, sesuai dengan nilai diri kita. Kesadaran akan potensi unik ini akan membuat kita lepas dari kungkungan pikiran negatif seperti suka membanding-bandingkan. Sebab, kita sadar sepenuhnya bahwa masing-masing memiliki “The ultimate gift” dari Sang Mahakuasa.

Ambil contoh: seorang pelukis. Dia tak akan bisa memaksa diri untuk jadi maestro tari atau ahli komputer. Begitu juga sebaliknya, seorang ahli komputer, tak bisa pula menghasilkan lukisan indah atau karya tari yang bernilai tinggi atau berharga selangit. Inilah kekuatan bobot, bibit, bebet. Yakni, dengan memaksimalkan potensi masing-masing, setiap orang akan mendapati dirinya memiliki kekuatan yang akan membawanya pada puncak-puncak kesuksesan yang berbeda-beda.

Namun, untuk menggapai puncak, seseorang dengan bobot, bibit, bebet tertentu puntak bisa meraihnya tanpa tindakan nyata. Tanpa diasah, dilatih, digembleng, the ultimate gift-nya akan menjadi “mutiara” yang tenggelam dalam lumpur. Untuk itu, seseorang perlu mencari, menggali, menemukan, dan kemudian memaksimalkan potensi unik dalam dirinya agar benar-benar muncul dan menjadi kekuatan utama menuju kesuksesan.

Untuk menggembleng itulah, kita pasti akan menemui berbagai halangan, tantangan, dan rintangan. Seperti juga batu yang diasah jadi permata penuh keindahan, digosok, digerus, ditatah, dibenturkan, menjadi bagian dari upaya untuk memperindah permata tersebut. Karena itu, jika kita menemui berbagai ujian di tengah proses mencari bakat unik yang kita miliki, justru itulah “jamu pahit” yang akan menguatkan. Justru itulah kesempatan bagi kita untuk menjelma jadi “mutiara-mutiara indah” kehidupan.

Begitulah, bobot, bibit, bebetperlu digali dan ditemukan dalam berbagai peristiwa kehidupan. Agar semuanya menjadi matang dan mampu mengantar kita menuju kehidupan yang berkualitas. Perlu juga kita ingat, bahwa saat berada di puncak, tak selamanya puncak itu milik kita. Sebab, masih ada puncak-puncak lain di mana kita bisa terus berjuang untuk membuktikan eksistensi kita sebagai insan luar biasa.

Mari, kita terus berusaha, berjuang, berkarya. Maksimalkan bobot, bibit, bebet kita dengan terus bertindak dan belajar hingga akhir hayat. Hanya dengan itulah, kita akan menciptakan hidup yang benar-benar berarti dan mampu mengantar kita pada kebahagiaan sejati.

Salam sukses luar biasa!!!
Read more

Filosofi Jawa: “Titipan”


Pernah mengamati petugas valet parking di hotel-hotel atau pusat pertokoan? Mereka dengan keramahannya menjaga betul mobil kita. Apa pun jenis mobil yang kita kendarai, akan dijaga sesuai dengan standar dan prosedur yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

Begitu juga saat mereka mengambilkan kendaraan kita kembali. Senyum ramah mereka sunggingkan, sembari mengucapkan selamat jalan dan semoga selamat sampai tujuan. Meski bukan mobil milik sendiri, mereka memperlakukan layaknya kendaraan sendiri. Begitu harus “melepas” kendaraan kembali ke pemiliknya, mereka pun tulus memberi ucapan selamat dan mendoakan agar sampai tujuan. Sepele sepertinya. Namun, peristiwa sederhana tersebut, bisa jadi pembelajaran bagi kita tentang ketulusan ketika memperoleh sesuatu. Ya, para petugas valet parking itu menerima titipan, menjaganya, dan kemudian mengembalikan tanpa harus “merasa kehilangan”.

Pada tulisan kali ini, saya ingin menggarisbawahi poin soal “merasa kehilangan”. Banyak dari kita yang sering menerima titipan—apalagi berwujud jabatan tapi kemudian melekat pada titipan tersebut. Akibatnya, saat harus melepas titipan, terasa berat. Padahal, sedari awal, sudah jelas ,semua ada masanya.

Saya ingat, ada sebuah ungkapan bahasa Jawa yang perlu kita renungkan. Bandha titipan, nyawa gadhuhan, pangkat sampiran. Arti harfiahnya adalah harta hanyalah titipan, nyawa adalah gadaian, dan pangkat hanya digantungkan. Tak ada yang abadi yang menempel pada diri kita. Kecuali—bisa jadi—nama baik yang terus akan dikenang.

Ungkapan tersebut sangat dalam maknanya. Sebab, kita diajarkan untuk “tahu diri” dan “sadar kondisi”. Kita diajarkan untuk tidak membiarkan diri tenggelam dalam kemelekatan pada suatu hal yang kita agung-agungkan. Sebab, saat kita sudah terjebak dan lengket pada apa yang kita sebut sebagai pangkat, jabatan, wewenang, kekuasaan atau bahkan nama baik sebagai bentuk pencitraan suatu saat pasti akan datang masa di mana kita tak bisa melawan kehendak Sang Maha Pencipta dan Kuasa.

Lalu, apakah kita tak berhak menikmati “titipan” itu? Sebenarnya sah-sah saja. Bahkan, semua itu manusiawi. Bagaimana tidak? Sudah bekerja keras, sudah berjuang maksimal, sudah berusaha mati-matian, tentu “imbalan” yang kita dapat itu berhak kita nikmati. Dan, berhak pula kita pertahankan. Tapi, jangan sampai semua itu malah lantas membelenggu kita. Sebab, jika itu yang terjadi, mungkin kita malah akan terjebak, jadi “diperbudak” oleh status kita sendiri. Akibatnya, bukan menikmati, bukannya bahagia, namun malah jadi sengsara, karena terbebani oleh status fana yang ingin kita jaga.
Maka, alangkah baiknya, saat titipan itu masih di tangan kita apa pun bentuk dan namanya kita berdayakan titipan itu pada hal-hal yang membuat manfaatnya bisa dirasakan kepada lebih banyak orang. Jabatan misalnya. Gunakan untuk membuat berbagai kebijakan yang membawa keberkahan bagi masyarakat luas. Kekayaan apalagi. Akan jauh bermakna saat dimaksimalkan untuk membawa kebaikan bagi sekitarnya. Atau, saat nama baik kita sandang. Alangkah indahnya dengan pengaruh yang kita miliki bisa menggerakkan lebih banyak insan untuk membawa berbagai perubahan untuk membangun sekelilingnya.

Dengan “menikmati” titipan melalui cara-cara yang lebih positif, rasa kepemilikan terhadap titipan yang diberikan akan menjelma jadi “kepemilikan” bersama. Sehingga, saat titipan itu sudah tak lagi melekat pada kita, manfaatnya masih bisa kita rasakan bersama-sama pula.

Mari, sadari bahwa harta hanyalah titipan, nyawa adalah gadaian, dan pangkat hanya digantungkan. Semua akan berlalu seiring dengan waktu. Tugas kita, sebisa mungkin memaksimalkan waktu tersebut untuk menjadi manfaat yang berlipat, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi bagi insan lain sebanyak-banyaknya. Jika itu mampu kita lakukan, niscaya, kebahagiaan akan melekat pada kita selamanya. Semoga.
Read more

Filosofi Jawa: Nyantri (Berguru)


Cobalah baca semua biografi orang-orang ternama, di sana kita akan membaca, bahwa orang yang terbaik, orang tersukses, hampir semuanya pernah menyebut, paling tidak satu nama sebagai mentornya. Mereka adalah orang-orang yang menjadi tokoh panutan, tempat pembelajaran, hingga menjadi guru spiritual yang membimbing langsung atau tidak sehingga menginspirasi untuk berbuat yang terbaik dalam hidupnya. Inilah bagian dari kehidupan, di mana satu dengan yang lain, saling terkait, saling memengaruhi, saling mengisi.

Sebagai orang yang gemar dan mempelajari kungfu, saya termasuk juga orang yang menikmati kisah-kisah dunia persilatan atau karya fiksi kungfu. Salah satunya, yang ditulis oleh almarhum Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Dalam sebuah kisah atau di banyak kisah lain ada satu hal yang saya amati. Yakni, selalu muncul orang-orang hebat yang sebelumnya berguru pada orang hebat pula. 

Mereka hebat bukan hanya dalam ilmu silat atau kungfu, tapi juga filosofi kehidupan yang dianutnya. Di lain sisi, kadang mereka diperlawankan dengan tokoh yang sama hebatnya, berasal dari perguruan yang hebat pula, namun digunakan dengan cara yang salah.

Mereka sebelum jadi orang hebat dalam istilah orang Jawa sering disebut sedang nyantrik atau yang dalam arti harfiah berguru pada orang yang hebat untuk mendapatkan ilmu yang hebat pula. Dengan nyantrik, seseorang yang benar-benar tekun, mau melaksanakan perintah, mau bekerja keras, akan mendapatkan “turunan” ilmu yang luar biasa. Dan, biasanya, tak semua murid bisa mendapatkan semua “turunan” ilmu tersebut. Sebab, hanya yang terbaiklah yang akan mendapatkannya.

Di sini, syarat utama harus selalu dipegang teguh. Melaksanakan semua perintah Sang Guru, mendalami semua ilmu dengan ketekunan, dan bekerja ekstra luar biasa. Tanpa itu semua, jangan harap Sang Guru mau menitiskan ilmu pamungkas—yang biasanya merupakan ajian paling hebat—pada sang murid. Atau, kalau yang berwatak buruk, biasanya digambarkan ia akan mencuri ilmu tersebut. Tapi, itu pun tetap harus dipelajari dengan ketekunan yang amat luar biasa hebat juga.

Jika ditarik dalam kehidupan kekinian, “berguru” bisa kita lakukan di mana saja. Kita berguru pada kehidupan, baik yang dialami sendiri atau yang kita ambil saripatinya dari kisah sukses orang lain. Begitu juga sebenarnya ketika kita sedang berinteraksi dengan orang lain. Kita sejatinya juga sedang nyantrik alias berguru. Mulai dari kita melihat bagaimana cara orang lain bisa sukses, mempelajari bagaimana sebuah sistem bekerja sehingga mampu membuat sebuah usaha jadi luar biasa, atau sekadar berguru tentang hikmah kehidupan dari orang-orang di sekitar.

Dengan merendahkan hati, melapangkan jiwa, memperluas cakrawala pandang, kita akan banyak menemukan hal yang bermanfaat pada kehidupan yang kita jalani ini. Bergurulah pada setiap orang, setiap kejadian, setiap peristiwa. Syaratnya, kita harus mau membuka pikiran, membuka diri. Dan, sebagaimana layaknya nyantrik di sebuah perguruan, kita pun dituntut bukan hanya sekadar melihat, mendengar, dan mengamati. Tapi, kita harus mengambil tindakan dari pelajaran yang kita serap. Dengan makin tekun, bekerja lebih ekstra, hingga menjalankan apa yang “diperintahkan”.

Saya sendiri hingga kini masih terus berguru. Terutama, dari berbagai buku dan kajian-kajian kehidupan. Hampir bisa dikatakan, tiada hari tanpa buku. Dan, tiada pembelajaran kehidupan yang saya lewatkan begitu saja. Misalnya, melalui "catatan harian" yang sering saya tulis di www.jowo.ga  di  sana saya acap kali membuat kajian tentang peristiwa yang terjadi.

Dalam catatan tersebut, buah pemikiran saya padupadankan dengan nilai-nilai kehidupan. Dengan begitu, apa pun yang kita alami, apa pun yang kita terima, apa pun adanya kita saat ini, kita akan selalu mampu memetik pembelajaran hidup yang luar biasa. Jika itu terus kita lakukan, niscaya semua peristiwa pahit manis, sukses gagal, bahagia nestapa akan jadi ilmu hebat yang akan membuat kita menjadi manusia seutuhnya.

Selamat berguru!
Read more

Filosofi Jawa: Ngadeg Jejeg (Berdiri Tegak)


Di akhir tahun, tanpa terasa banyak sekali hal yang telah kita lewati. Banyak kondisi yang kita perkirakan terjadi. Dan, banyak pula hal di luar ekspektasi. Kadang, mengejutkan. Sering bahkan, membuat kaget berkepanjangan. Ada yang merasakan krisis, ada yang merasakan kehilangan, ada yang merasakan banyak halangan. Tapi, di tengah berbagai kondisi yang terjadi, ada pula yang menemukan keberuntungan. Ada yang merasakan kesenangan. Ada yang merasakan banyak keberkahan.

Semua memang sudah berjalan pada “takdir” hidup masing-masing. Dan, semuanya pun sejatinya dalam keberimbangan kehidupan. Tak ada sukses tanpa melewati kegagalan. Tak ada senang yang tak didahului kesedihan. Tak ada bahagia yang tak didampingi pula oleh kenestapaan. Sebagaimana adanya positif, ada pula yang negatif. Semua dalam “lingkaran” keseimbangan; sebagaimana lingkaran yin dan yang, satu sama lain saling melengkapi. Karena itu, sudah sepatutnya kita menyadari hal tersebut. Sehingga, saat terpuruk, tak ada kata putus asa, karena sadar semua hanya pembelajaran semata. Sebaliknya, saat berada di puncak sukses, selalu pula ingat bahwa tak ada pula sukses yang abadi. Sehingga, kita pun akan terhindar dari kesombongan diri.

Dengan pengertian tersebut, kita akan jadi pribadi yang mampu “ngadeg jejeg” alias berdiri tegak. Sebagai insan yang yakin bahwa tak ada kesuksesan yang abadi, tak ada kesuksesan tanpa melewati perjuangan, kita seharusnya mampu menjadi pribadi yang bisa berdiri kokoh.

Sebagai orang yang sedari muda belajar ilmu kungfu, saya tahu persis bagaimana posisi berdiri bisa menjadi solusi untuk meraih kemenangan dalam pertarungan. Dengan memiliki tumpuan kekuatan pada kaki—yakni dengan membentuk kuda-kuda yang kuat—akan menjadi pembeda antara pemenang dan pecundang. Kaki yang berdiri kokoh tak akan mudah dijatuhkan oleh sapuan tendangan ataupun pukulan. Selain itu, dengan posisi yang benar, kita bisa tetap dengan mudah mengendalikan posisi tubuh sehingga bisa lincah bertahan ataupu menyerang.

Di sinilah kekuatan posisi ngadeg jejeg dengan kuda-kuda dasar yang benar. Kita seharusnya mampu menjadi insan yang memiliki pijakan kuat untuk melangkah. Saya ingat persis, bagaimana jika seorang guru mengetes kuatnya kuda-kuda. Kaki kami ditendang atau dicoba dipatahkan dengan berbagai sarana yang digunakan. Bagi yang memiliki kuda-kuda yang benar, ia tak akan mudah dijatuhkan. Begitu pula dalam kehidupan. Tendangan yang kerap ditujukan—berupa ujian, cobaan, halangan, rintangan—akan bisa dihadapi bagi mereka yang terbiasa keras kepada diri mereka. Mereka yang terbiasa belajar ngadeg jejeg, tak akan mudah diombang-ambingkan oleh keadaan dan kondisi. Bahkan, di tengah hal yang dianggap mustahil, keyakinan kuat yang diasah dengan terus bekerja keras, justru akan semakin menguatkan langkah menuju keberhasilan yang didambakan.

Mereka yang ngadeg jejeg sadar sepenuhnya, bahwa perjuangan adalah hal mutlak yang harus dilakukan untuk meraih kemenangan. Mereka yang ngadeg jejeg pantang merasa lemah saat berhadapan dengan kondisi yang tidak mengenakkan sekali pun. Sebab, mereka sadar sepenuhnya, “hukum keseimbangan” akan datang pada saatnya. Sehingga, di tengah cobaan dan ujian, mereka yang bisa tetap berdiri tegak serta makin kokoh keyakinannya, bahwa yang diperjuangkan tak kan pernah sia-sia.

Di akhir tahun ini, mari tetap jaga semangat kita! Tetap optimis dan berjuang untuk meraih semua cita-cita. Salam sukses, luar biasa!!!
Read more

Filosofi Jawa: Siapa Bersungguh-sungguh Akan Menemukan yang Dicarinya


Setiap orang memiliki target dan tujuan yang berbeda. Yang menyamakan adalah sebuah rumusan yang berlaku umum, siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang akan mencapai apa yang diidamkan.
Sayangnya, pengertian “sungguh-sungguh” kadang kurang dipahami dan diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan. Misalnya, baru gagal sekali dua kali, sudah langsung menyerah. Mencari prospek pelanggan baru ditolak sekali dua kali, langsung merasa bahwa dunianya bukan di bidang penjualan. Baru kalah dalam satu dua pertandingan, sudah mengecap diri tak punya potensi. Akibatnya, proses kegagalan yang harusnya jadi pembelajaran, justru jadi batu sandungan. Ujungnya, menyerah sebelum tercapai semua keinginan.
Padahal, justru pada titik-titik paling melelahkan—yang paling sering membuat orang menyerah—itulah, mungkin hanya selangkah lagi kita akan mencapai kemenangan yang diimpikan. Karena itu, hanya mereka yang bersungguh-sungguhlah, yang akhirnya mampu mencapai tujuan. Mereka melampaui “batasan” dalam dirinya sendiri. Ini sejalan dengan buku karya Anwar Fuadi yang beberapa waktu menjadi best seller, berjudul Negeri 5 Menara. Dalam buku tersebut, ada sebuah ungkapan “ajaib” dari bahasa Arab yang sering disebut dan menjadi pegangan tokoh dalam buku itu untuk mencapai tujuan, yakni man jadda wa jada yang arti harfiahnya: siapa bersungguh-sungguh, akan mendapatkannya.
Dalam istilah bahasa Jawa, ada kata temen yang berarti sungguh-sungguh. Kata ini biasa muncul dalam sebuah filosofi Jawa, “Sopo sing temen, bakal tinemu” yang arti harfiahnya adalah siapa yang sungguh-sungguh, akan menemukan yang dicarinya. Dalam bahasa Inggris pun, kita mengenal ungkapan yang memiliki arti tak jauh beda, yakni: Where there is a will, there is a way.
Semua itu menunjukkan, bahwa pengertian bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan berlaku universal. Semua suku, bangsa, agama, pasti memiliki anjuran yang sama. Dan memang itulah kenyataan kehidupan. Itu bisa kita lihat di mana banyak tokoh dunia melegenda, karena kegigihan dan kesungguhan mereka dalam berkarya.
Maka, jika kita melihat ada siswa/mahasiswa yang lulus ujian dan tidak, ada yang mendapat nilai baik, ada pula yang kurang, semua itu pasti didasari pula oleh kesungguhan masing-masing anak. Namun, bukan jaminan pula, mereka yang punya nilai baik, akan mendapatkan sukses di kemudian hari, jika tak disertai dengan kesungguhan-kesungguhan berikutnya. Sebab, sejatinya, “ujian” nyata ada di kehidupan yang kita jalani sehari-hari dan itu berjalan terus-menerus hingga kita tak bernapas lagi.
Menilik kekuatan kesungguhan hati ini, mari kita coba lihat dalam diri, sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam setiap tugas dan tanggung jawab yang kita emban? Sudahkah hari ini kita memberikan yang terbaik dari yang kita bisa? Sudahkah kita memaksimalkan segala daya dan upaya untuk mengejar cita-cita? Semuanya kembali pada diri kita sendiri yang bisa menjawabnya.
Mari kita selalu bersungguh-sungguh, dalam setiap aspek kehidupan yang kita jalani. Jangan sibuk menilai kekurangan orang lain, tapi nilailah kekurangan diri dan segera memperbaiki. Jangan sibuk menyalahkan diri saat gagal, tapi sibukkan diri untuk menjadikan setiap kegagalan sebagai fondasi mencapai kesuksesan. Dengan kesungguhan, kita ubah kemustahilan menjadi keniscayaan, terus berjuang, wujudkan semua impian!
Salam sukses Luar Biasa!
Read more

Filosofi Jawa: Tirakat Poso


"Gemblengan hidup" yang kita jalani selama ini justru adalah sarana untuk menguatkan diri. Halangan dan rintangan bukan hadir untuk melemahkan, tapi justru menjadi ajang latihan kehidupan agar kita menjadi insan luar biasa yang mampu menciptakan sukses di sana-sini.

Dan, kini, gemblengen itu dihadirkan dalam sebuah rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan bagi umat Islam. Saat itu, gemblengen puasa menahan diri tidak makan dan minum dari Subuh hingga Magrib akan jadi ujian fisik yang akan mengantarkan pada penguatan mentalitas dalam diri. Sebab, saat menahan lapar dan haus itulah, godaan-godaan duniawi seolah selalu menanti. Dan, ketahanan diri untuk menahan hawa nafsu duniawi itulah yang akan semakin menguatkan iman dan sekaligus menambah kekayaan mentalitas saudara-saudaraku umat Islam.

Begitu juga dalam agama lain. Sebenarnya, puasa juga dikenal dalam berbagai bentuk. Misalnya untuk umat Kristiani, biasanya ada puasa menjelang hari Paskah. Atau, untuk umat Buddha ada puasa yang dikenal sebagai attasila. Semuanya sebenarnya bermuara pada satu hal, pengendalian diri dan meningkatkan kedekatan pada Sang Pencipta. Dan, ini sebenarnya hanyalah satu dari sekian banyak sarana kita untuk “keras” pada diri sendiri atau untuk “tidak mengasihani diri sendiri”.

Dalam tradisi masyarakat Jawa sendiri, ada beberapa bentuk tirakat, seperti poso mutih, yakni puasa hanya dengan makan dan minum serba putih, poso pati geni atau puasa sehari semalam tanpa menyentuh makan dan minum serta berhubungan dengan duniawi. Kesemua akar "tirakat poso" itu tadi bermuara pada satu hal yang hampir senada, yakni pencapaian kendali atas diri untuk meningkatkan kesadaran bahwa kitalah yang mengendalikan diri, bukan nafsu, bukan emosi, bukan pula pengaruh kekuatan lain di luar diri.

Sebab, tanpa disadari, masih banyak tindakan dan kelakuan kita yang justru banyak dipengaruhi oleh kekuatan di luar diri. Sedikit diprovokasi, kita langsung gampang terbakar emosi. Sedikit saja senggolan, sudah terjadi kerusuhan. Bahkan, hanya sekadar lirikan, bisa berujung pada perkelahian.
Padahal, jika kita benar-benar menyadari bahwa kita memegang penuh kendali atas diri sendiri, maka kita pasti tak akan perlu membuang-buang energi secara percuma.

- Daripada sibuk memikirkan kritikan orang lain, kita justru bisa mengubah kritikan itu jadi pelajaran untuk perbaikan.

- Daripada terbebani mengapa orang lebih sukses dari kita, dengan kendali diri kita akan lebih mampu mengambil pelajaran sukses dari orang tersebut untuk mencapai sukses yang sama atau bahkan lebih.

- Daripada sibuk memikirkan kenaikan harga yang menjulang, lebih baik kita menahan untuk lebih bijak mengonsumsi barang sehingga bisa berhemat di sana sini.

- Daripada memikirkan mengapa belum terjadi perubahan besar di lingkungan kita, lebih baik kita mencari solusi mulai dari dalam diri untuk melakukan yang terbaik pada bidang yang kita geluti saat ini.

Begitulah, tirakat poso mengajarkan banyak hal tentang pemaknaan dalam diri. Karena itu, selepas puasa nanti, atau selepas tirakat apa pun yang kita jalani, ada baiknya kita untuk meneruskan setiap hari untuk tirakat. Menjadikannya sebagai budaya untuk mengendalikan nafsu duniawi, menjadikannya kekuatan untuk makin mampu mengontrol diri sendiri.

Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa untuk saudara-saudaraku umat Islam. Semoga, ibadah yang dijalankan, akan makin menanamkan kekayaan mental sebenarnya. Serta semakin membawa kedamaian dan kesejukan toleransi bagi negeri kita.
Read more