Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Hadiah Cinta

Bisa saya melihat bayi saya?" Pinta ibu yang baru melahirkan anaknya, saat bayi diberikan kepadanya. Sesuatu yang mengagetkan terjadi, bayi dalam gendongan itu dilahirkan tanpa kedua belah daun telinga! Meski begitu si ibu tetap menimang sayang bayinya.


Waktu membuktikan, meski terlihat aneh dan buruk, pendengaran anak itu bekerja dengan sempurna dan dengan kasih sayang dan dorongan semangat orang tuanya, ia menjadi pemuda tampan yang cerdas, serta pandai bergaul sehingga disukai teman-temannya. Ia juga mengembangkan bakat di bidang musik sehingga tumbuh menjadi remaja pria yang disegani.

Suatu hari ayah lelaki itu bertemu dengan seorang dokter bedah hebat. "Saya bisa memindahkan sepasang daun telinga untuk putra bapak, tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan daun telinganya," kata sang dokter. Maka orangtua lelaki itu mulai mencari, siapa yang mau mendonorkan daun telinganya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu, tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tidak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan daun telingannya kepadamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk operasi, namun semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Wajahnya yang tampan, ditambah kini sudah punya daun telinga, membuat ia terlihat menawan. Ditambah bakat musiknya, dia makin disegani dan mampu meraih menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Kecerdasannya kemudian membuat ia diterima bekerja sebagai diplomat. Singkat kata, ia sangat ingin berterimakasih kepada orang yang mendonorkan daun telinga.

"Aku harus mengetahui, siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua kepadaku, ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya," kata si anak, pada ayahnya.

"Ayah yakin kau tidak bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan daun telinga itu." Setelah terdiam sesaat, ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti rahasia tetap tersimpan rapi, hingga suatu hari sesuatu yang menyedihkan bagi keluarga itu terjadi. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan ayah membelai rambut ibu yang terbujur kaku lalu menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak terjadi. Ternyata si ibu tidak memiliki daun telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya dan tak seorangpun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya kan?"

Melihat kenyataan bahwa daun telinga ibunya yang didonorkan, meledaklah tangis si anak. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunyalah yang membuat ia bisa seperti saat ini.

Netter yang bijaksana,
"Cinta sejati" tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan tapi tidak diketahui. Kisah pengorbanan ibu dalam cerita di atas adalah wujud cinta sejati yang tidak bisa dinilai dan digantikan dengan apapun, atau sebuah cinta murni yang tak mengharap balasan apa pun.

Karena itu, kita, sebagai anak, jangan pernah melupakan jasa ibu. Melalui dialah, kita ada. Apapun yang kita lakukan, pastilah tak sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita menjadi seperti sekarang ini.

Mari jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus diberikan penghormatan. Sebab dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
Read more

Hidup Rukun dan Harmonis Dalam Keluarga

Alkisah, pada sebuah malam sebelum Tahun Baru Imlek tiba, hujan turun dengan lebatnya. Seorang gadis cilik yang tampak kesepian sedang bersedih karena keluarganya tidak rukun.


"Tahun Baru sebentar lagi akan tiba, tapi keluargaku tidak bahagia. Kakak memaksa ingin dibelikan sepeda motor baru. Tetapi Ayah dan Ibu tidak menyetujui karena kakak dianggap suka ngebut. Mereka pun bertengkar terus soal itu," Keluhnya dalam hati.

Saat matanya nanar melihat keluar jendela, didapati ada empat pria tua berjalan di tengah guyuran hujan, dia pun segera berlari ke ruang tengah sambil membuka pintu rumah dan berseru: "Ayah, Ibu, lihatlah! Kakak, coba ke sini cepat!"

Sang ibu keluar rumah dan menyapa sekumpulan pria tua itu. "Tuan-tuan, di luar hujan lebat sekali. Mari silakan mampir dan berteduh di rumah kami!"

Keempat pria tua itu berhenti di depan rumah dan memperkenalkan diri sendiri satu persatu sebagai: Kekayaan, Kesuksesan, Kesejahteraan, dan Harmoni. Salah seorang menjawab sapaan si ibu: "Terima kasih atas kebaikan Anda, Nyonya. Kami berempat dan kami punya sebuah aturan, yaitu hanya salah satu dari kami yang boleh masuk ke rumah. Siapakah yang ingin Anda undang ke rumah Anda?

Ayah berkata, "Kami seharusnya mengundang masuk Kekayaan, dengan begitu kami bisa mendapat kehidupan yang nyaman dan menyenangkan!"

Si kakak berkata, "Jangan, pilih Kesuksesan saja! Aku ingin keluargaku bangga padaku! Dan tentunya, sukses juga berarti kaya sehingga aku bisa memiliki sepeda motor impianku"

Ibu berujar, "Tunggu! Kupikir Kesejahteraan yang paling penting! Karena sejahtera berarti tidak berkekurangan dan sehat."

Si gadis cilik yang sedari tadi diam, menyela bertanya pada ibunya, "Ibu, Ibu, harmoni itu apa? Kenapa tidak ada yang mengajak masuk Harmoni?"

Setelah terdiam sejenak, Ayah berkata, "Ya, benar! Kenapa kita tidak undang Harmoni? Tahun Baru sebentar lagi datang, sudah seharusnyalah kita sekeluarga rukun dan damai. Tidak perduli kita kaya, sukses atau sejahtera, jika kita rukun pasti bahagia. Kita putuskan, kita undang Tuan Harmoni ke rumah kita. Silahkan masuk Tuan Harmoni."

Tuan Harmoni pun masuk ke dalam rumah dan diikuti dengan tiga pria tua lainnya. "Lho? Katanya tadi hanya salah satu dari kalian yang boleh masuk ke rumah? Kenapa sekarang semuanya ikut masuk?" tukas Ayah

Mereka menjawab, "Kami punya aturan lainnya! Jika Harmoni yang diundang masuk, maka Kesejahteraan, Kesuksesan, dan Kekayaan akan mengikuti." Si gadis cilik itu berkata dengan penuh bahagia, "Sekarang aku mengerti. Kita bisa bahagia kalau kita hidup rukun."

Netter yang berbahagia,
Memang benar. Kerukunan dalam keluarga adalah yang utama dan segalanya. Di dalam diri anak-anak...ada bagian ayah dan ibu, demikian pula sebaliknya. Tiap bagian diri harus harmoni. Jika harmoni terjaga, kerukunan terpelihara, maka sukses, bahagia, dan sejahtera pasti akan mengikuti.

Semoga di saat ini, saat nanti, setiap waktu.. Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan kesehatan, kesejahteraan, kesuksesan, kekayaan, dan keharmonian kepada kita semua.
Read more

Mendorong Anak dan Remaja Untuk Meraih Sukses

Belakangan ini banyak bintang muda baru yang bermunculan, mulai dari menyanyi, akting, kompetisi olahraga, musik, sastra, hingga bidang bisnis. Semua terjadi dengan cepat, seakan menyiratkan kalau sukses dan ketenaran bisa diraih dengan mudah.


Sebenarnya, setiap pencapaian besar dimulai dari langkah-langkah kecil. Sesukses apa pun seseorang, keberhasilan itu tentunya diawali dari satu langkah kecil. Akan tetapi, jarang terjadi langkah-langkah kecil tersebut langsung mengarah pada suatu sukses tertentu.

Meski begitu, pandangan kita selalu terpaku pada kisah indah yang terjadi pada para pengusaha, atlet, penyanyi, dan bintang film muda terkenal itu. Kita cenderung mengabaikan atau tidak memperhatikan masa sulit yang mereka jalani.

Padahal sangatlah penting untuk mengajarkan anak-anak hingga remaja bahwa sukses bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan. Keberhasilan tidak terjadi begitu saja seperti membalikkan telapak tangan. Kadang, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meraih suatu tujuan atau cita-cita. Terkadang pula, suatu target itu tampak mustahil atau terlalu jauh untuk digapai. Namun dengan berfokus yang dimulai dengan menjalani pilihan-pilihan kecil setiap harinya, tujuan akhir itu dapat dicapai.

Karena itu jangan abaikan dan dorong anak-anak untuk memulainya dari langkah kecil.

Langkah pertama selalu terlihat lebih berat daripada yang sebenarnya. Bagaimana satu langkah saja bisa membawa perbedaan? Sungguh besar bedanya. Setiap pekerjaan, apa pun, tidak akan terselesaikan tanpa adanya langkah pertama. Begitu banyak orang yang tidak pernah mengambil langkah pertama, bukan karena hal itu terlalu sulit, melainkan lebih karena hal itu terlihat terlalu sulit.
Pastinya anak-anak kita pernah menjumpai momen-momen di saat mereka berpikir bahwa sesuatu yang tengah mereka hadapi tampak lebih sukar untuk dijalani dibandingkan yang sebenarnya. Sebagai orangtua, kita perlu mengingatkan bahwa sebuah target atau tujuan besar tidak akan pernah bisa tercapai jika langkah pertama tidak diambil.

Tak ada namanya keberuntungan. Terkadang, kelihatannya ada sejumlah orang yang terus saja mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya. Baik itu meraih beasiswa studi ke luar negeri, memenangkan suatu pertandingan kelas nasional atau internasional, atau memperoleh peringkat pertama di kelasnya. Hal-hal bagus itu sepertinya kebetulan saja terjadi dalam hidup mereka.

Namun, sukses tidaklah identik dengan keberuntungan. Sukses adalah tentang persiapan dan pilihan. Dengan sekadar memposisikan diri untuk meraih sukses saja bisa membawa suatu perbedaan besar. Bagi anak remaja, hal itu dapat berarti mendidik diri mereka sendiri dan berusaha belajar dari orang lain yang telah sukses dalam suatu bidang yang sangat diminati oleh anak-anak remaja kita.

Buatlah langkah-langkah itu sekecil mungkin. Setiap tugas sebesar apa pun dapat dipecah-pecah menjadi hal-hal kecil. Mencapai kemenangan-kemenangan kecil di sepanjang jalan yang dilalui anak remaja menuju tujuan yang lebih besar dapat menciptakan momentum, yang membuat perjalanan itu sendiri menjadi lebih mudah untuk dilalui.

Langkah kedua itu sama pentingnya. Langkah pertama sangatlah kritis, begitu pula langkah kedua. Banyak orang yang memulai suatu tugas atau pekerjaan atau rencana mereka dan terlalu cepat menghentikan langkah mereka di tengah jalan. Tanpa mengambil langkah kedua, momentum tidak akan bisa tercipta.

Ajarilah anak-anak kita bahwa mereka akan menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Mereka mempunyai dua pilihan: menghentikan langkah mereka atau berusaha menarik pelajaran penting dari pengalaman kegagalan mereka. Ini sama halnya dengan proses seorang bayi belajar berjalan atau seorang anak kecil belajar menendang bola dalam olahraga sepakbola. Kemampuan berjalan atau menendang bola yang baik tentunya tidak akan terjadi dalam sekejap, tidak dalam percobaan pertama, kedua, atau ketiga. Hal ini memakan waktu berbulan-bulan. Itulah yang dinamakan proses yang terdiri dari langkah-langkah kecil menuju sesuatu yang besar.

Perjalanan tanpa akhir
Dunia ini selalu berubah. Teknologi berkembang lebih cepat. Informasi disebarkan dan diciptakan dalam kecepatan luar biasa. Supaya tetap mampu mengikuti perubahan yang terus berlangsung, sangatlah penting bagi anak-anak kita untuk selalu terbuka mempelajari hal-hal baru. Didiklah mereka bahwa seperti halnya dunia ini, mereka tidak akan pernah hanya diam di tempat saja. Ia akan selalu berubah, entah itu berubah ke arah yang lebih baik atau tidak. Dirinya sepuluh tahun mendatang tidaklah sama dengan dirinya saat ini.

Pastikan mereka memahami bahwa dalam upaya menentukan arah tujuan hidup mereka, hal itu tidak didasarkan pada satu pilihan besar. Melainkan merupakan serangkaian pilihan yang berkelanjutan. Anak yang berangkat remaja sedang berada di tahapan hidup di mana ia memiliki peluang besar untuk mengembangkan perilaku dan kebiasaan positif untuk menjalani pembelajaran yang sifatnya berkelanjutan.

Bagaimana anak-anak kita (terutama remaja) agar mampu mengikuti perubahan-perubahan dan tetap mampu mempelajari hal-hal baru? Berikut ini ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk memudahkan menjalankan semuanya itu.
1. Pelajari cara kerjanya dan apa yang perlu dilakukan.
2. Belajar sambil dipraktikkan.
3. Mencari seorang ahli di suatu bidang yang diminati remaja kita. Orang ini nantinya dapat membimbing berdasarkan pengalaman-pengalamannya.

Belajar dari seorang ahli yang telah mengalami sukses dan gagal akan sangat berharga. Bantulah remaja kita menemukan tim pendukung mereka. Dari siapakah mereka bisa belajar? Siapakah yang dapat membantu mereka mencapai sasaran mereka? Bantulah mereka untuk membuat janji bertemu dengan orang-orang ini yang sekiranya bisa dengan mudah dihubungi dan bersedia untuk membimbing anak kita.

Apabila anak-anak kita belajar apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan, dan jika mereka dapat menemukan jalan untuk menerapkan pengetahuan itu dalam hidup mereka, anak-anak kita akan dapat memulai perjalanan mereka menuju sukses dengan awal yang sangat baik.
Read more

Selasa, 02 Januari 2018

Mengenalkan Kata Maaf dan Memaafkan Kepada Anak

Kata maaf kadang mudah diucap tapi sering hanya di mulut saja. Padahal, keikhlasan memaafkan akan jauh lebih membahagiakan. Untuk itu, buah hati kita perlu diajarkan lebih dini untuk memberi dan meminta maaf dengan segera.


Suatu kali, tiba-tiba buah hati kita mengadu. Mereka mengaku telah membuat teman mereka menangis, karena sebelumnya teman mereka telah lebih dahulu melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan. Mereka hanya membalas. Mendengar apa yang mereka katakan, apa yang harus kita lakukan? Mengajak mereka mengurai masalah, lalu jika ternyata mereka yang salah lantas mengajak mereka ke rumah temannya? Atau membiarkan saja, karena kita pikir itu bukan kesalahan buah hati kita, tapi kesalahan temannya juga?

Masalah ini sebenarnya hanya masalah kecil. Tapi justru belajar dari masalah kecil seperti ini kita bisa masuk pada pembahasan yang lebih besar. Yaitu pembahasan tentang bagaimana meminta maaf dan memaafkan dengan setulus hati. Bagaimana kata-kata maaf bukan hanya hadir di permukaan saja, tapi benar-benar merasuk ke dalam hati.

Tapi apa untungnya meminta maaf dan memaafkan sepenuh hati? Untungnya adalah anak-anak diajarkan untuk melupakan apa yang sudah berlalu dan memulai segala sesuatunya tanpa perlu menengok ke belakang lagi.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua untuk membuat anak-anak kita tahu bagaimana meminta maaf dan memberi maaf dengan cara yang baik dan benar, sehingga tidak ada luka dari pihak lawan dan juga dari pihak mereka?

1. Memaafkan Itu Penting Atau Tidak?
Memaafkan tentu saja tidak akan mudah dipahami bila kita tidak mengarahkan arti pentingnya memaafkan. Anak-anak di rentang usia mana pun ketika dekat dengan kita, akan menganggap kita adalah teladan untuk mereka. Maka ketika memaafkan itu kita anggap penting untuk anak-anak dan menjadi sesuatu yang berharga, tentu ada tahapan yang memang harus kita lakukan untuk mereka.

Kita tidak bisa sekedar berkata, “Kamu harus minta maaf.” Atau, “Kamu harus memaafkan.” Tapi kita harus memberi contoh sehingga mereka paham kenapa mereka harus melakukan hal itu. Contoh itu cepat sekali akan meresap kepada mereka bila contoh itu datangnya dari kita. Misal, tidak sadar kita menyakiti perasaan pengasuh anak-anak di rumah. Lalu kita langsung meminta maaf pada si pengasuh. Sehingga anak paham bahwa meminta maaf itu penting dan tidak boleh ditunda.

2. Lakukan Dari Hal Terkecil
Mengajarkan memaafkan yang paling efektif adalah dari rumah kita sendiri dan dari hal-hal yang paling kecil, bahkan harus dimulai dari hal-hal yang justru sering kita sepelekan. Hal-hal kecil itu akan lebih efektif lagi bila bukan sekadar dari apa yang mereka lihat. Tapi bersentuhan langsung dengan mereka.

Ketika kita tidak sengaja menginjak kaki mereka ketika sedang berjalan, kita bisa langsung mengucapkan kata maaf. Atau ketika anak melakukan kesalahan seperti tidak sengaja memecahkan gelas koleksi kita dan mereka sudah minta maaf, kita harus memaafkannya. Dan setelah bicara menjelaskan, harusnya dianggap selesai. Tidak perlu mengungkit-ungkit lagi sehingga anak menjadi terluka karenanya.

3. Coba di Lingkungan Pergaulan
Setelah kita berhasil memasukkan makna kata maaf dan memaafkan, maka langkah berikutnya adalah menjajal dalam pergaulan mereka sehari-hari. Sebab, anak-anak kelak harus hidup di luar, jauh dari kita.

Untuk itu, pantau anak-anak dalam caranya berinteraksi dengan teman-temannya. Di rentang usia balita pasti akan jauh lebih mudah memantaunya. Sebab pada rentang usia itu mereka sedang belajar bagaimana caranya berinteraksi dengan teman-teman. 

Ketika kita melihat mereka melakukan kesalahan, jangan tunda untuk mengajarkan mereka meminta maaf. Kita ajarkan mereka untuk mengulurkan tangan minta maaf pada temannya. Dan ajarkan temannya juga untuk menerima maaf darinya. Biasanya tindakan seperti itu akan mudah ditiru oleh anak yang lain.

4. Memaafkan Itu Artinya Aktif
Buah hati kita tentu tidak akan paham apa makna memaafkan secara aktif, bukan pasif. Sebab, banyak dari kita sebagai orangtua kerap memaafkan orang lain itu secara pasif. Begitu kita terluka, kita memaafkan secara mulut, tapi tidak secara hati. Hubungan kita renggang serenggang-renggangnya, bahkan mungkin kita tidak mau lagi mengenali orang itu.

Memaafkan secara aktif berbeda. Ketika kita ingin mengajarkan memaafkan secara aktif, artinya ketika buah hati kita bermusuhan dengan temannya, maka kita menjadi saluran untuk mereka agar saling bermaafan. Bahkan ketika buah hati kita masih tidak mau berteman dengan temannya itu, kita sebagai orangtua bisa berlaku aktif dengan mengajak anak kita ke rumah temannya itu.

5. Sedalam Apakah Luka Itu?
Memaafkan tentu saja berkaitan dengan seberapa dalam efek ketika orang lain menyakiti perasaan anak kita. Ketika anak kita berkata bahwa ia tidak mau lagi berteman dengan temannya, kita sebagai orangtua harus tahu dan bertanya apa penyebabnya. Seperti apakah perlakuan temannya itu hingga mereka tidak mau lagi berteman?

Akan menjadi mudah bila mereka bercerita sehingga kita bisa mengarahkan pada mereka. Luka yang dalam bisa terjadi karena anak-anak memang tidak pernah dipersiapkan untuk terluka atau anak-anak tidak pernah diajarkan untuk melupakan luka itu.

6. The Best Thing is Communication
Komunikasi memang selalu menjadi efek terpenting dalam tumbuh kembang hubungan kita dengan anak-anak dan hubungan anak-anak dengan teman-temannya. Jalinlah komunikasi yang baik dengan anak-anak dan biarkan mereka bebas bercerita tanpa takut salah dengan kita. Sehingga, ketika kita ada sesuatu hal yang melukai anak-anak kita dapat cepat mengetahuinya.

Semoga, dengan beberapa kiat tersebut, maaf dan memaafkan bukan lagi menjadi perkara yang sulit lagi. Mari, biasakan diri kita sendiri untuk saling memaafkan, sehingga anak-anak pun akan meneladani tindakan kita agar hidupnya kelak penuh kebahagiaan, karena lapangnya hati akibat sudah terbiasa memaafkan.
Read more

Senin, 25 Desember 2017

Makna Dari Ulang Tahun


Ulang tahun biasanya membawa arti tersendiri bagi setiap orang yang sedang memeringatinya. Bagi yang beranjak remaja lebih berarti kebahagiaan, menandai bertambahnya usia untuk menjadi lebih dewasa. Ini sering disertai dengan pesta dan kemeriahan menerima peluk cium serta hadiah dari keluarga dan kerabat yang mencintainya. Sungguh momen yang menggembirakan dan mungkin tak terlupakan. Kata anak saya sewaktu kecil saat ulang tahunnya dirayakan, "Enak ya Ma ulang tahun. Kalau bisa sering-sering ulang tahun Ma, biar dapat banyak kado hahaha..."

Ulang tahun sejatinya memeringati sebuah perjuangan seorang perempuan, ketika bertaruh nyawa mewujudkan keberadaan setiap kita di bumi ini, yang dijuluk penuh cinta sebagai Ibu, Ibunda, atau Mama.

Sedangkan ulang tahun bagi saya, bukan sekadar mengingatkan perjuangan dan cinta mama saja, tetapi sejak tepat usia saya di angka 34, sekaligus memeringati pula hari wafatnya mama tercinta. Benar, mama meninggal tepat di tanggal ulang tahun saya.

Beberapa hari setelah meninggalnya mama (dan ulang tahun saya), seorang keponakan yang punya kemampuan sixth sense khusus menyampaikan ke saya, "Bu, yang kuat ya. Emak pergi di tanggal ulang tahunmu artinya Emak ingin saat kamu mengingat Emak sekaligus juga ingat akan keluarga semua dan menitipkan keluarga besar ini ke kamu." Maka, setelah itu, setiap ulang tahun saya memilih pulang ke kampung halaman, mendoakan orangtua, daripada merayakannya bersama keluarga di Jakarta.

Mama adalah sosok penuh kharisma, pejuang kehidupan yang luar biasa, figur papa sekaligus mama (karena papa meninggal saat saya berusia 19 bulan, sehingga mamalah yang berperan penuh di kehidupan saya), dan masih banyak lagi predikat yang membanggakan di seputar sebutan Mama. Tetapi, predikat selamanya tidak akan melebihi kebesaran subjeknya.

Sungguh saya bersyukur pernah memiliki seorang mama seperti itu. Dengan kelebihan dan kekurangan beliau, kami anak-anaknya mencintai dan menghargai beliau dengan cara kami masing-masing. Tanpa Mama yang hebat, mungkin tidak akan ada anak-anak yang hebat pula. Dan pesan Mama yang tersirat saat beliau pergi, seakan mampu membuat saya tak kuasa berpaling setiap ada masalah di keluarga besar kami, untuk sekadar bersimpati dan mengulurkan bantuan berupa apa pun yang dibutuhkan dan mampu saya lakukan.

Seperti kita ketahui, tidak ada sekolah yang mengajari bagaimana menjadi orangtua. Yang ada, setelah menikah dan kemudian punya anak, tiba-tiba status kita berubah menjadi seorang ayah atau ibu. Dan sejak saat itu, proses belajar sebagai orangtua pun terjadi secara alami. Ketika dulu kita sebagai anak, ada hal-hal yang kita pelajari dari cara orangtua kita dalam memelihara dan mendidik anak. Setelah kita menjadi orangtua, sebagian pelajaran itu bisa kita adopsi, sebagian kita tinggalkan. Ketidakcocokan pola didik bukan untuk dipersalahkan atau menjadi bahan perbandingan. Setidaknya, guru pertama dalam mendidik dan memelihara anak adalah orangtua kita sendiri. Dan jika suatu saat kita menjadi orangtua, otomatis kita pun menjadi guru bagi putra putri kita sendiri.

Di keluarga kecil kami, ada sebuah tradisi yang kami ajarkan ke anak-anak. Setidaknya dua kali dalam setiap tahun, mereka harus melakukan namaskara (semacam tradisi "penghormatan") kepada orangtuanya, yakni, di hari ulang tahun papa atau mamanya, dan di hari ulang tahun mereka. Menurut saya, sangatlah penting melakukan kegiatan semacam itu, setidaknya mengingatkan pada mereka, bahwa anak adalah bagian dari mama dan papanya, begitu pun sebaliknya. Selayaknya di antara keluarga harus saling perhatian dan menyayangi.

Semoga dengan pengetahuan ini, apa pun status kita, sebagai anak maupun orangtua, kita mampu menjalaninya dengan sebaik-baiknya, lebih bijak dan bahagia.
Read more

5 Cara Jitu Mengajarkan Anak Menyelesaikan Masalah


Menyelesaikan masalah bisa diajarkan sejak dini pada anak-anak kita. Hal tersebut, bisa menjadi bekal penting kehidupannya kelak. Bagaimana caranya?

Masalah bukan hanya milik orang dewasa. Masalah juga bisa dihadapi anak-anak kita. Masalah-masalah kecil yang biasa dihadapi anak-anak, paling banyak terjadi biasanya karena interaksi dengan teman-temannya.

Mengajak mereka menghindari temannya agar tidak menjadi suatu masalah, bukan cara yang paling efektif. Sebab sikap seperti itu hanya akan membuat anak tidak terlatih untuk memecahkan masalah. Padahal kelak di masa depan, mereka akan menghadapi masalah kecil yang ketika tidak dicari akar permasalahannya, akan menjadi suatu masalah besar yang bisa jadi membuat mereka depresi.

Orangtua yang baik adalah orangtua yang memiliki pandangan jauh ke depan untuk anak-anak. Melatih anak-anak sejak dini untuk memecahkan masalah, akan menjadi solusi efektif agar kelak anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bukan sekadar besar raganya, tapi juga besar jiwanya.

Berikut  ini 5 cara jitu untuk mengajarkan anak menyelesaikan masalah. Bisa kita coba, untuk membentuk mentalitasnya sebagai anak yang cerdas dalam menyelesaikan masalah:

1. Ajarkan Anak untuk Berpikir Logis
Berpikir secara logis adalah berpikir kritis dengan melihat baik dan buruknya suatu masalah dengan tidak menambah dan menguranginya.

Lalu bagaimana cara kita untuk mengajarkan berpikir logis itu pada anak-anak? Anak-anak peniru yang ulung, mereka akan melihat bagaimana cara kita berpikir secara logis. Ketika mereka mengadu bahwa kaki mereka luka karena ulah temannya, maka setelah itu mereka akan melihat reaksi kita.

Jika setelah itu kita melarang mereka main dengan teman mereka tanpa pertanyaan lebih lanjut pada mereka, itu artinya kita tidak mengajarkan berpikir logis pada mereka. Tapi jika kita berpikir secara logis, maka kita akan bertanya pada anak detail kejadiannya lalu minta anak membuktikan. Sehingga mereka paham bahwa ketika bercerita dengan kita, maka unsur kebenaran sangat penting.

2. Beri Masalah, Lihat Bagaimana Mereka Memecahkannya.
Anak-anak kita tidak akan mengenal masalah bila kita tidak mengenalkan masalah pada mereka. Cara sederhana untuk membantu mereka memecahkan masalah adalah ketika mereka sedang bermain. Banyak permainan yang sebenarnya bisa mereka jadikan pelajaran kalau kita tidak terlalu over protective terhadap mereka.

Ketika mereka bermain dan tersandung sebuah batu, biasanya orangtua langsung menyingkirkan batu itu. Ada juga yang langsung memeluk anak dan mengatakan bahwa si batu nakal. Padahal, untuk membuat anak berpikir logis dari masalah itu adalah dengan mengajaknya berdiskusi setelah tangisnya reda.

Anak jatuh karena apa? Lalu ketika anak menyalahkan si batu seperti ia melihat contoh dari teman-temannya ketika terjatuh, kita bisa ajarkan bahwa batu itu tidak salah ada di situ. Mungkin saja ada orang yang meletakkannya dan lupa mengembalikan batu itu ke tempat semula.

Ajarkan untuk memindahkan batu ke tempat yang benar dan nasihatkan bahwa lain kali hati-hati ketika sedang berlari. Dengan begitu anak belajar mengolah informasi secara logis dengan tidak menyalahkan orang lain, tapi berusaha meningkatkan kewaspadaan dirinya sendiri.

3. Pancing Dengan Permainan Edukatif.
Banyak permainan anak-anak yang sudah ditinggalkan oleh orangtua dengan alasan tidak penting. Dengan alasan itu juga, waktu bermain yang sangat dibutuhkan anak untuk melatih motorik juga strategi untuk mengambil langkah tepat dan akurat, diganti menjadi jadwal les yang terlalu padat. Dan diganti dengan interaksi anak-anak dengan game. Padahal, permainan itu mengajarkan banyak hal pada anak-anak termasuk pemecahan masalah.

Dalam permainan galasin (gobak sodor) anak-anak akan belajar bagaimana caranya menembus pertahanan lawan, dan mengambil celah ketika lawan lengah. Permainan ini juga mengajarkan koordinasi yang baik antara teman dalam satu tim sehingga tim mereka bisa memenangkan pertandingan.

Pada permainan kwartet, anak-anak dilatih untuk membaca ekspresi lawan untuk menebak kartu yang dipegang. Semakin sering mereka memainkannya, semakin lihai mereka menebak lawan yang mana yang memegang kartu yang mereka inginkan.

Begitu juga dengan permainan dakon alias congklak. Anak akan belajar bagaimana memikirkan jalan yang akan ditempuh lawan, lalu mereka juga akan membuat strategi sendiri sehingga lubang tempat mereka mengumpulkan batu dakon tidak kosong.

4. Cerita Interaktif
Mendongeng atau bercerita sebelum tidur bisa jadi adalah hal yang biasa. Anak-anak bisa menangkap pelajaran bijak dan mungkin menangkap makna yang diceritakan.

Tapi cara yang paling efektif untuk mengajarkan anak memecahkan masalah adalah dengan melibatkan mereka bercerita secara interaktif. Bagaimana caranya? Kita bisa memancing mereka dengan satu kalimat saja dan minta mereka untuk meneruskan.

Misal kita melemparkan kalimat seperti, kalimat ini. “Suatu hari, ada gajah bertemu kucing.”
Minta mereka untuk meneruskan kalimat yang kita rangkai. Cerna baik-baik kalimat yang mereka lemparkan. Arahkan pada satu titik persoalan.

Bisa jadi si anak menjawab, “Lalu kucing itu menangis”. Kita bisa lanjutkan lagi, “Kucing itu menangis karena tidak diajak bermain bola dengan teman-temannya.”

Anak yang biasa berpikir kritis pasti akan bertanya, apakah kucing bisa bermain bola? Suara kucing menangis seperti apa? Atau kalau kucing bermain bola, bagaimana gawangnya dan lain sebagainya. Dari percakapan tersebut, kita bisa mengarahkan mereka untuk membantu memecahkan masalah si kucing.

5. Beri Kepercayaan Diri
Sering orangtua tanpa disadari tidak mengajarkan anak-anak berproses untuk percaya diri. Orangtua menganggap anak-anak itu selalu kecil di matanya sehingga selalu siap sedia sepenuh hati untuk membantu.

Ketika mereka membuat rumah seperti kapal pecah, orangtua membiarkan anak-anak pergi berlalu saja tanpa pernah merapikan kembali mainannya. Atau ketika anak-anak melempar begitu saja tas atau sepatunya, orangtua siap sedia meletakkan di tempat yang benar. Hal-hal kecil seperti itu justru yang akan membuat anak selalu merasa bahwa ada orang lain yang bisa membantu dengan sigap untuk segala urusan mereka. Dampak lebih jauhnya, mereka tidak akan siap untuk melakukan apa-apa secara mandiri. Lebih jauh lagi untuk sebuah permasalahan dalam hidup mereka, mereka juga tidak akan mampu untuk memecahkannya.

Maka sebelum terlambat, berikan yang terbaik untuk buah hati kita. Termasuk memberikan pelatihan agar kelak mereka paham bagaimana menyelesaikan sebuah masalah dalam hidup mereka.
Read more

Apa Isi Hati Kita Hari Ini?


Alkisah, di sebuah klinik dokter spesialis anak-anak, seorang anak laki-laki bernama Jeremy sedang melakukan pemeriksaan rutin tahunan.

Sang dokter mengetuk dada Jeremy berulang kali dengan jarinya, "Apakah kamu dengar suaranya yang seperti rongga kosong?" Jeremy mengangguk.

"Nah itulah paru-paru kamu. Kamu tahu enggak, apa kira-kira isi paru-paru kamu?" tanya sang dokter.

"Isinya.. udara," jawab Jeremy.

"Ya, betul, itu isinya udara. Pintar sekali deh, kamu Jeremy. Nah kalau yang ini suara ketukannya adalah seperti mengenai suara benda padat bukan?, Nah di rongga sebelah dalam ada jantung (heart) kamu. Apa isi jantung hatimu?"

Pertanyaan sang dokter yang langsung dijawab mantap oleh Jeremy, "Kasih dan cinta."

“Ohhh pantas…! Pantas kamu selalu sehat, Jeremy!” Sang dokter tersenyum dengan sangat lebarnya.

Dear Readers,
Coba periksa apa isi hati kita hari ini? Apakah penuh dengan cinta kasih ataukah penuh dendam, amarah, kebencian, kegeraman...?

Jika bukan cinta kasih, hanya perasaan negatif, buanglah. Sebab semua itu hanya akan menyesakkan dada kita. Ingatlah selalu, agar jantung hati kita tetap sehat, kita perlu mengisinya dengan kasih dan cinta.

Jantung hati kita terisi kasih atau tidak, itu sesungguhnya tergantung pada kita. Jadi bukan karena keadaan lingkungan sekitar. Bisa jadi memang lingkungan sekitar kita tidak kondusif sehingga membuat kita selalu saja ingin marah dan kesal. Namun pada akhirnya semuanya tergantung pada diri kita. Apakah kita mau terus biarkan terisi amarah begitu. Atau menggantinya dengan kasih.
Demi kesehatan diri kita…. Keep love inside our heart…
"The best & the most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart." Helen Keller
"Keep love in your heart. A life without it is like a sunless garden when the flowers are dead." Oscar Wilde
Read more