Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Januari 2018

Mencari Jam Emas Ayah

Alkisah, suatu hari, seorang bangsawan yang kaya raya ingin menghadiahkan sebuah jam saku emas kuno kepada salah satu anaknya di hari ulang tahunnya nanti. Si bangsawan mempunyai tiga orang anak yang sama-sama dicintainya, tetapi hanya mempunyai satu jam emas. Maka, dibuatlah semacam kompetisi. Nantinya, anak yang dapat mencari dan menemukan jam tangan itulah yang akan memilikinya. Maka, segeralah dipanggil ketiga anaknya.


“Anakku, jam ayah terjatuh di tumpukan jerami di gudang kita. Jam itu sangat ayah sayangi karena itu warisan kakek kalian yang tidak ada duanya. Karena itu, aku tugaskan kalian untuk mencarinya. Nah, sulung, engkau mendapat giliran pertama untuk mencari dan membawa jam itu kepada ayah.”
“Baik ayah,” jawab si sulung. Ia kemudian mengambil sebatang tongkat. Dengan tongkat itu, sambil bernyanyi nyaring, dia bekerja keras membolak-balikkan jerami. Tetapi, sampai tenaga habis dan suaranya serak, jam tetap tidak berhasil ditemukan.

Tiba giliran anak kedua memasuki gudang jerami dengan membawa senter di tangan. Raut wajahnya tampak kesal dan tidak senang mematuhi perintah sang ayah. Ia merasa sang ayah terlalu mengada-ada. Mengapa demi sebuah jam tua, mereka harus bersusah payah membuang tenaga dan waktu untuk mencarinya di gudang yang kotor. Maka, sambil mengomel panjang pendek, ia mulai mencari jam tersebut. Karena tak sepenuh hati mencari, walau telah memelototi setiap sudut, hingga batu baterai senter itu habis, jam tetap tidak ditemukan.

Kemudian giliran anak ketiga memasuki gudang jerami. Dengan pembawaannya yang tenang dan senyum manis di bibir, dia memasuki gudang lumbung padi. Tidak berapa lama kemudian dia keluar dengan wajah berseri dan membawakan jam emas itu kepada ayahnya. Melihat itu, sang ayah gembira dan bertanya, “Anakku, bagaimana engkau dapat menemukan jam itu dengan waktu yang cukup singkat? Sedari tadi kakak-kakakmu telah berusaha begitu lama, tetapi mereka tidak berhasil menemukan jam tersebut.”

Si bungsu pun menjawab, “Ayah, saya hanya duduk diam, berkonsentrasi di dalam gudang lumbung padi. Dalam keheningan dan ketenangan itulah saya bisa mendengarkan suara detak jam tangan tik tik tik... sehingga dengan mudah saya dapat mencari dan menemukan di mana jam tersebut berada. Tapi atas semuanya, syukurlah kami dapat membantu Ayah mendapatkan kembali jam emas kesayangan itu..”

Maka, jam emas itu diberikan kepada si bungsu tepat di hari ulang tahun sang ayah. “Anakku, karena engkau yang telah menemukan jam ini, maka ayah berikan ini kepadamu. Ayah percaya, engkau akan menyimpan dan memelihara dengan baik jam emas kesayangan ayah ini.” Dengan wajah gembira, si bungsu pun menerima pemberian ayahnya.

Dear Readers,
Sebuah hadiah, pantas diberikan kepada mereka yang berprestasi dan berjuang sepenuh tenaga untuk mewujudkan cita-cita. Demikian juga dalam kehidupan. Saat kita sedang berhadapan dengan aneka masalah dan tantangan yang harus ditaklukkan, jika kita mau berjuang dengan semangat pantang menyerah dan tekad membaja, pasti akan ada hadiah di balik keteguhan kita memecahkan masalah tersebut.

Untuk itu, dalam menghadapi setiap masalah, berat maupun ringan, kecil ataupun besar, kita seharusnya mampu menjaga keluasan hati dan ketenangan berpikir, agar sebuah masalah bisa kita urai berdasarkan sumber masalahnya. Ibarat mengurai benang kusut, kalau sudah ditemukan ujung pangkalnya, pasti akan lebih mudah mengurainya. Sebaliknya, emosi yang meledak-ledak, terburu-buru dalam berbuat, atau menyepelekan masalah yang timbul, hanya akan memicu masalah yang lebih besar.

Mari kita jaga kejernihan daya pikir dengan selalu menjaga hati, mampu menciptakan ketenangan dan keheningan. Dengan begitu kita akan mendapatkan solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang ada secara efektif dan bijaksana.
Read more

Memberi

Suatu sore, seperti biasanya seorang pemuda pulang kantor & mengendarai sepeda motornya. Ia tertarik melihat seorang anak yang berumur kurang lebih 10 tahun dengan sangat sigap menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan yang berhenti di lampu merah.


Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak, dikayuhnya sepedanya. Lalu setiap beberapa meter, ia berhenti sambil membagikan bungkusan yang dibawanya itu. Ia menyapa akrab setiap orang mulai dari tukang koran, penyapu jalan, tunawisma sampai polisi.

Kejadian ini sangat menarik dan membuat pemuda itu penasaran. Lalu, ia pun memanggil anak tersebut. Tanyanya, "Kalau boleh tahu, apa yang barusan kamu bagikan ke tukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi?"

Anak kecil itu menjawab, "Oh... Itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak, memangnya kenapa?" Pemuda itu lantas menjawab, "Kakak tertarik melihat cara kamu berbagi, kamu terlihat terbiasa & akrab. Apa kamu sudah lama mengenal mereka?"

Lalu anak itu pun bercerita, “Dulu, aku & ibuku sama seperti mereka, hanyalah seorang tunawisma, setiap hari bekerja & mengharapkan belas kasihan. Kami begitu susah hingga suatu hari ibuku bisa membuka warung nasi & kehidupan kami mulai membaik. Maka dari itu, ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi ketika kita diberi rejeki yang cukup. Kenapa kita tidak mau berbagi kepada mereka?”

Lanjutnya, "Ibu selalu mengatakan bahwa hidup kita haruslah berarti buat banyak orang. karena ketika kita kembali pada Sang Pencipta, kita tidak akan membawa apa-apa. Jadi jika ada kelebihan, mengapa kita mau untuk berbagi dengan yang lain agar banyak orang juga bisa sedikit merasakan kebahagian yang kita miliki.."

Dear Readers,
Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain & tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri sendiri saja. Menyenangkan diri sendiri memang membuat bahagia. Namun menyenangkan orang lain membuat bahagia diri kita berlipat ganda. Sebab kebahagian yang kita timbulkan pada orang tersebut akan mempengaruhi kebahagiaan diri kita juga secara lebih berlimpah.

The more we give the more we get….
Kindness in words creates confidence. Kindness in thinking creates profoundness. Kindness in giving creates love.” - Lao Tzu

Have a GREAT Day!
Read more

My Bag, My Mind (Tasku, Pikiranku)

Setiap hari sebagian besar dari kita membawa tas untuk bekerja/kuliah. Jika sedang ada waktu luang, cobalah lihat/bongkar isi tas kita.


Ternyata, kadang-kadang separuh dari isi tas itu adalah barang-barang yang sudang tidak kita perlukan: struk ATM yang sudah buram, bungkus tisu, agenda yang jarang dibaca, recehan yang kotor, ballpoint yang sudah macet, kumpulan tagihan kartu kredit, dan sebagainya.

Meski mungkin ringan, tetapi umumnya barang-barang yang tidak diperlukan membebani tas kita. Sebaiknya sortir dan buang barang-barang yang sudah tidak berguna tersebut.

MY MIND
Kadang, mirip dengan tulisan My Bag di atas, pikiran kita (tanpa disadari) selama ini sering kita bebani dengan hal-hal yang tidak perlu: penyesalan masa lalu, rasa kecewa, perasaan jengkel, iri, kurang puas atas kondisi yang terjadi, rendah diri, dan sebagainya.

Pikiran-pikiran yang tidak perlu akan terus membebani perjalanan hidup kita, sehingga dampaknya raut wajah akan kelihatan suntuk, stres, dan hidup kurang nyaman. Kita juga akan membenci hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Lakukan terhadap My Mind sama dengan apa yang kita lakukan dengan My Bag di atas. Sortir dan buanglah segala beban pikiran yang tidak ada manfaatnya itu. Lakukan setiap hari dan ciptakan kebiasaan berpikir positif agar kita bisa menjalani hari-hari dengan "ringan" dan menyenangkan.
Read more

Keras Pada Diri Sendiri, Toleran Pada Orang Lain

Kita terlahir sebagai makhluk sosial di mana satu dan yang lainnya, saling bergantung dan tak bisa lepas begitu saja. Karena itu, menjaga hubungan baik di lingkungan sosial adalah mutlak adanya. Sebab, tanpa keharmonisan dengan sesama di sekitar kita, maka hidup bisa jadi terlunta-lunta.


Untuk itu, rasa saling menghargai dan toleransi harus selalu menjadi hal yang utama. Menghormati sesama, saling menolong, saling membantu, adalah beberapa hal kunci yang harus dibiasakan agar kita mampu menjalin keharmonisan di lingkungan dan sekitar kita.

Sayangnya, belakangan ini, entah mengapa, justru makin banyak hal yang mendorong ke arah terjadinya ketidakharmonisan. Tidak cocok sedikit, berujung pada perdebatan. Melirik sedikit, sudah dianggap sebagai tantangan. Salah ucap sedikit, sudah dianggap sebagai kesalahan yang tak patut dimaafkan. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan seperti merebak di mana-mana. Hampir setiap hari, hampir semua berita, selalu saja ada kisah memilukan akibat emosi tak tertahankan.

Bukan itu saja. Saat ada masalah, banyak orang justru berusaha mencari-cari kambing hitam karena takut disalahkan. Akibatnya, bukan solusi yang didapat, tapi justru mengundang kebencian dan emosi. Demokrasi yang tadinya bertujuan memberi kebebasan berpendapat, justru sering kali berujung pada perpecahan pendapat. Tak jarang, kritikan justru berbuah tonjokan.

Padahal sejatinya, jika kita mau merenung dan berpikir lebih jernih, semua masalah pasti ada solusi. Semua kendala, pasti bisa diatasi. Semua perbedaan, pasti bisa dijembatani. Karena itu, di tengah berbagai kondisi yang kita alami belakangan ini, pepatah Tiongkok Kuno ini barangkali bisa menjadi refleksi, “Keras pada diri sendiri, yan yu li ji; Toleran pada orang lain, kuan yu dai ren.”

Dalam hal ini, "keras pada diri sendiri" dimaksudkan sebagai bentuk evaluasi diri yang menyeluruh sebelum melihat ke luar. Jika kita membiasakan diri untuk selalu bercermin dalam diri, maka kita pun akan lebih terbuka untuk selalu bisa mengoreksi. Sehingga, saat ada kesalahan, kita tak akan mencari-cari alasan. Namun, kita mampu mencari jawaban dari dalam diri hingga solusi lebih mudah dicari.

Sebaliknya, "toleran pada orang lain" bermakna lebih terbuka untuk menerima kesalahan dan segera memaafkan. Tentu, hal sebatas hal yang dilakukan masih dalam titik kewajaran. Dengan bertoleransi, kita akan bisa lebih berpikir tenang dan berjiwa lapang sehingga saat menghadapi kendala, bisa saling bahu-membahu menyelesaikan bersama-sama.

Kedua sikap ini, jika dikembangkan secara bersamaan, akan memberikan harmonisasi kehidupan sosial yang menyejukkan. Apalagi, jika hal ini diterapkan oleh seorang pemimpin, baik di lingkungan keluarga, organisasi, usaha, ataupun pemerintahan.

Lihatlah contoh pada tokoh-tokoh dunia. Salah satunya pada Mahatma Gandhi. Tokoh pergerakan dari India ini memilih gerakan damai dengan berlaku keras pada diri sendiri. Ia tidak terpancing untuk meladeni hujatan dan makian dari lawan-lawan politik dan penjajahnya. Namun, dengan cara keras pada diri sendiri itulah, hingga kini ia dikenang sebagai tokoh yang sangat dikagumi di berbagai belahan dunia.

Atau, lihat pulalah bagaimana reaksi yang dicontohkan dari tindakan Nelson Mandela. Pejuang kesetaraan kulit hitam dan putih di Afrika Selatan ini terang-terangan mendapat berbagai ujian dan cobaan selama perjuangannya. Namun, dengan toleransi yang sangat besar, ia memberi maaf pada orang-orang yang pernah kejam padanya. Dengan cara itulah, ia menyatukan bangsa Afrika Selatan hingga tahun ini sukses menyelenggarakan pesta sepakbola Piala Dunia.

Simak juga langkah Steve Jobs, pendiri Apple Corp yang dipecat dari perusahaannya sendiri. Tapi, ia justru memilih “berbicara” dengan karya. Jobs “keras” pada dirinya sendiri dengan menyibukkan diri membuat berbagai inovasi di bidang komputerisasi berdasar keyakinannya. Akhirnya, ia kembali pada perusahaan tersebut dan dengan toleransi yang besar, berhasil menyatukan kembali semua visi di Apple sehingga kini Apple makin dikenal sebagai perusahaan inovatif dengan iPod, iPhone, dan iPad-nya.

Itulah bukti nyata, betapa pepatah Tiongkok Kuno, “Keras pada diri sendiri; Toleran pada orang lain” mampu jadi solusi. Karena itu, jika ada persoalan, cobalah lihat ke dalam. Jika menghadapi tantangan, cobalah evaluasi diri. Mari kita bukakan hati dan tenangkan pikiran agar toleransi selalu kita kedepankan. Sehingga, semua persoalan dan tantangan, bisa diselesaikan dengan semangat persaudaraan.
Read more

Jadi Orang Kritis, Mari Hentikan Hoax!

THE HOAX adalah nama sebuah judul film drama yang dibuat tahun 2005. Film itu berkisah tentang kisah hidup Clifford Michael Irving, reporter investigasi yang cukup terkenal di Amerika Serikat. Dia juga menulis beberapa buku. Antara lain biografi Howard Hughes, salah satu orang kaya di Amerika.


Buku itulah yang kemudian diangkat ke layar lebar meski belakangan diketahui, banyak yang ditulis oleh Irving dibukunya, dihilangkan atau diubah. Irving kesal dan menganggap film itu penuh kebohongan. Dia kemudian meminta agar namanya tidak dimunculkan di kredit film. “The Hoax” sejak itu menjadi terkenal.

Seorang wartawan menjuluki mereka yang suka menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya sebagai the clicking monkeys, tapi celakanya sebagian wartawan juga sering menjadi semacam itu. Mereka menulis dari sumber yang tidak jelas, tidak kredibel, bahkan tak mencantumkan asal-usul sumbernya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita langsung percaya dengan berita atau tulisan yang kita terima begitu saja? Sekalipun itu berasal dari orang yang mempunyai kredibilitas yang tinggi, menurut saya kita tetap harus BERHATI-HATI. Sebab mereka pun barangkali bisa tertipu dengan tulisan-tulisan hoax tersebut. Tidak ada salahnya cek dulu, via Google misalnya.

Untuk saya sendiri, saya punya beberapa kebiasaan yang barangkali bisa menjadi panduan. Saya biasanya tidak akan memforward berita jika:

1. Asal usul berita tidak jelas. Tidak ada referensi misalnya dari koran atau majalah mana. Sekalipun ada, tetap mesti dicek, karena referensi banyak yang referensi bodong alias asal tulis (karena ternyata setelah dicek tidak pernah ada berita seperti itu). Sekalipun ada referensi yang jelas, tetap mesti dilihat “kredibilitas” media tersebut. Sebab sekarang ini banyak situs/website yang berisi berita-berita yang tidak benar.

2. Ada kata-kata “SEBARKAN”. Hampir 99% rasa saya yang mengandung kata ini, biasanya beritanya adalah hoax.

3. Penelitian abal-abal. Semua orang boleh saja memberikan kesaksian bahwa ia meminum ini dan itu lalu menjadi sembuh. Kesaksian seperti ini seringkali menyesatkan. Kalau berbicara penelitian, seharusnya dilakukan oleh orang yang tidak konflik kepentingan (conflict of interest). Evidence based perlu jumlah yang besar dan hasilnya dipublikasi di jurnal yang ternama. Sebab suatu ketika, jika ada seseorang menganjurkan bila kita sakit demam kita harus minum minyak tanah dicampur lemon karena kesaksian seseorang yang sembuh oleh karenanya, apakah percaya begitu saja? Kalau saya, tidak akan…

4. Judul berita provokatif. Misalnya "Singapore Airlines Terbakar!" Padahal itu berita lama yang sudah usang. Atau judul "Penculikan Anak untuk Jual Organ Tubuh", yang ternyata tidak benar. Sebab menurut saya, jika berita seperti ini benar, maka otomatis akan muncul di berita utama di media-media besar seperti Kompas, Media Indonesia, Detik News, dll. Kalau tidak, percayalah bahwa berita ini hampir pasti adalah hoax.

Ada banyak motif orang membuat berita hoax:
1. Senang bila tulisannya bisa menyebar viral di sosial media.
2. Propaganda untuk sebuah kepentingan yang tersembunyi, misalnya jualan atau adanya motif politik atau motif mempengaruhi.
3. Menjatuhkan image produk atau orang tertentu.
4. Dan lain-lain.

Ada beberapa websites untuk cek apakah berita tersebut hoax atau tidak:
1. https://www.turnbackhoax.id/
2. http://hoaxindo.blogspot.co.id/
3. http://www.snopes.com/
4. Dan lain sebagainya.

Mari sadari bahwa meneruskan (forward) berita yang tidak ada faedahnya dan malahan membuat resah adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Menyebarkan berita yang berisi nasihat apa pun itu, yang tidak didukung oleh referensi yang kuat, artinya menyebarkan mitos dan membuat seseorang mempercayai sesuatu yang salah. Jangan jadikan diri kita menjadi alat penyebar berita kebohongan. Dan jangan pernah mengatakan bahwa itu adalah "berita baik" sebelum Anda mencobanya/membuktikannya dan sebelum Anda lihat referensi yang sahih.

Jadilah orang yang kritis; Mari hentikan hoax!
Read more

Selasa, 02 Januari 2018

Waktu Yang Tersisa

Suatu hari di sebuah rumah sakit, tampak seorang wanita tua. Ia tiba di rumah sakit dengan tergesa-gesa. Lalu, ia segera mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit sebagai pasien dokter penyakit dalam.


Tidak lama kemudian, ia membawa kartu pasien dan menghampiri suster yang berada di depan ruang praktik dokter untuk memberitahu kedatangannya dan memberikan nomor urut antriannya.

“Suster, sekarang pasien nomer berapa? Giliran saya masih harus menunggu berapa lama untuk ketemu dokter?” tanyanya. 

“Tunggu saja, nanti dipanggil sesuai nomor urut,” jawab suster dengan sabar.

Rupanya, wanita itu adalah pasien lama di sana sehingga tanpa banyak bertanya lagi, ia pun  menempati bangku, bersama-sama dengan pasien lain menunggu giliran dipanggil. Selang beberapa saat, sikapnya terlihat gelisah. Sebentar kemudian dia melihat ke arah jam dinding, mulai mondar-mandir seolah tidak sabar menanti. Lalu, ia kembali menghampiri suster dan bertanya lagi dengan hati-hati, “Masih lama ya, Suster?”

“Ya, tunggu saja,” jawab suster. 

Saat giliran nomor antrean wanita itu sudah dekat, tiba-tiba ada panggilan darurat dari pihak rumah sakit. Rupanya, ada pasien yang keadaannya gawat dan harus segera ditangani sang dokter. Maka, sambil bergegas, pak dokter pun pergi meninggalkan ruang praktiknya untuk menolong pasien yang lebih membutuhkannya saat itu.

Wanita dengan kesal kembali duduk, kemudian berdiri, lalu mulai berjalan mondar-mandir. Kejadian itu memancing reaksi dua remaja yang juga sedang menunggu di situ.

“Pasien itu kelihatan gelisah dan tidak sabaran ya. Sudah setua itu, memangnya dia punya kesibukan apa sih? Kok menunggunya tidak sabar begitu,” ujar seorang remaja.

Kemudian temannya menimpali, “Iya tuh, sudah tua, mau melakukan apa sih, kok buru-buru sekali. Waktu kan masih panjang, sekarang saja masih siang.”

Wanita itu menghampiri mereka dan menyapa ramah, “Anak muda, saya dengar apa yang kalian bicarakan. Memang, saya kurang sabar menunggu. Justru karena sudah berumur, saya tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang belum sempat dilakukan. Dan karena sadar bahwa sisa waktu yang ada tidaklah banyak, rasanya tidak enak menunggu di sini terlalu lama, tanpa bisa melakukan apapun.”

“Oh, iya Nek. Maafkan kami,” jawab kedua remaja itu, merasa malu. “Kami tidak berpikir panjang tentang waktu yang begitu berharga. Sepantasnya kami yang muda pun harus berpikir tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Terima kasih karena telah mengingatkan kepada kami.”

The Cup of Wisdom
Tidak ada seorang pun yang bisa mengukur umur manusia secara tepat, termasuk kapan saat lahir dan kapan saat kematian tiba. Jika kita menyadari nilai waktu (termasuk sisa waktu yang dimiliki) dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan peran kita saat ini, di manapun kita berada, maka saat itulah kehidupan “senyatanya” baru dimulai.

Waktu adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia. Setiap orang itu punya waktu yang sama: 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Tapi hasil yang didapat setiap orang bisa berbeda.

Salah satu penyebabnya adalah setiap orang punya sikap yang berbeda atas waktu yang dimilikinya. Ada orang yang sama sekali tidak mampu memanfaatkan waktu dan justru membunuh waktu dengan melakukan hal-hal tidak bermanfaat. Namun ada juga orang yang bisa memanfaatkan waktunya dengan  melakukan berbagai kegiatan yang sangat penting dan strategis, dengan cerdas, cermat, dan cekatan (3C).

Cerdas artinya kita menggunakan waktu untuk pekerjaan yang bermanfaat, produktif, membangun diri, terus belajar dan berjuang keras mengejar apa yang kita cita-citakan. Cermat itu hati-hati, tak buang-buang waktu. Cekatan berarti kita pandai mengatur waktu, bisa mengatasi halangan rintangan yang kita hadapi, sekaligus bisa memanfaatkan peluang yang ada di hadapan kita. Jika kita bisa menggunakan prinsip 3C itu, niscaya hidup kita akan menjadi produktif.

Mari, manfaatkan waktu secara efektif untuk mendapatkan hasil terbaik. Buang semua kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat dan jauhi sifat suka memboros-boroskan waktu dalam mengerjakan apa pun. Jika demikian, niscaya kita tidak akan pernah menyesali masa-masa yang pernah kita lewati. Hidup kita akan semakin sukses, penuh gairah, dan bahagia.
Read more

Minggu, 31 Desember 2017

Happy New Year - Dare To Change!

Menyongsong tahun baru 2018, tentunya banyak tantangan yang akan dihadapi. Banyak pula perubahan yang akan terus terjadi tanpa bisa dihalangi, seiring perputaran waktu. Untuk menghadapinya, sebagai insan Tuhan yang bertanggung jawab atas kehidupan sendiri, kitalah yang menentukan sikap kita sendiri: mau positif atau negatif, malas atau rajin, optimis atau pesimis.


Jika kita menghadapi Tahun Baru dengan sikap pesimis, maka yang muncul pastilah rasa takut, cemas, khawatir, prihatin, pasif, frustasi, depresi dan dan sifat-sifat negatif lainnya. Akibatnya sudah bisa dipastikan, semua bayangan itu akan jadi kenyataan sehingga membuat kita makin terpuruk.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang selalu memilih untuk berpandangan optimis, mereka sadar di balik setiap kesulitan terdapat kesempatan dan pembelajaran. Persis seperti apa yang dikatakan oleh ilmuwan besar Albert Einstein, "In the middle of diffuculty lies oppurtinities."

Orang optimis akan selalu menyadari keadaan dirinya saat ini dengan penuh rasa syukur. Mereka sadar, bahwa dengan mau mensyukuri keadaan yang ada, mampu memaksimalkan apa yang dimiliki, serta dilandasi kemauan berjuang habis-habisan, apapun bisa diatasi. Ini sangat sesuai dengan prinsip filosofi dasar yang selalu saya gaungkan, "Success is my right!" Sukses adalah hak saya!

Agar sikap optimis bisa membawa hasil maksimal, kenali 4 tipe sikap manusia berikut ini:

1. Pesimis pasif. Orang yang bersifat seperti ini, sudah pesimis juga pasif. Hidupnya penuh dengan pikiran negatif, kebimbangan, dan keraguan. Sehingga sebagus apa pun peluang di depan mata, tidak berani dan tidak bisa ia manfaatkan.

2. Pesimis aktif. Orang tipe ini, biarpun aktif, namun bekerja asal bekerja. Hidupnya asal hidup. Ia lebih percaya bahwa sukses adalah faktor kebetulan atau keberuntungan semata.

3. Optimis pasif. Orang tipe ini, sudah memiliki sikap optimis tetapi pasif dalam mengantisipasi kesempatan yang dihadapinya, sehingga hasilnya apa adanya.

4. Optimis aktif. Sikap inilah yang terbaik. Orang seperti ini hidupnya penuh optimisme, berinisiatif, kreatif, mau belajar, mau bekerja keras & bekerja cerdas, dan pantang menyerah, Sehingga ia bisa menggunakan semua potensinya dengan optimal. Pastikan, kita adalah tipe nomor 4!

Mari, dengan doa dan sikap optimis aktif, kita aktualisasikan diri, berani menentukan apa yang pantas diraih, serta siap memperjuangkannya. Kita tanamkan dalam hati di setiap langkah: setiap bulan, setiap minggu, setiap setiap hari, setiap saat.. penuh harapan dan kesempatan! Berani berubah untuk menggapai sukses di tahun yang baru.

Selamat Tahun Baru 2018!
Dare to ChangeBe Spectacular!
Read more